Sambar.id Tanjab Barat, Jambi — 28 Maret 2026 || Pagi itu, jalan penghubung antar desa di Kecamatan Tebing Tinggi tampak lengang.
Di sisi kiri-kanannya, terbentang parit panjang yang menjadi aliran air bagi kawasan sekitar.
Di sepanjang jalur itu, tiang-tiang listrik berdiri berderet.
Namun, jaraknya dengan bibir parit—hanya sekitar satu meter—membuat sebagian warga memilih berhenti sejenak, memandang dengan rasa cemas.
Di titik inilah pembangunan dan kekhawatiran bertemu.
Proyek pemasangan jaringan listrik yang membentang sekitar satu kilometer ini menghubungkan Desa Lumahan di Kecamatan Senyerang, melintasi Desa Rawa Kempas, hingga menuju Desa Kelagihan Baru di Kecamatan Tebing Tinggi.
Bagi sebagian warga, proyek ini membawa harapan akan akses listrik yang lebih baik.
Namun di saat yang sama, cara pemasangannya justru memunculkan tanda tanya.
Beberapa tiang tampak berdiri tidak sepenuhnya tegak.
Dari kejauhan mungkin tak terlihat jelas, tetapi bagi warga yang setiap hari melintas, kemiringan itu cukup untuk menimbulkan kekhawatiran.
“Belum dipasang kabel saja sudah begitu,” ujar seorang warga pelan.
Ia menolak namanya ditulis, tetapi suaranya mencerminkan kegelisahan yang sama dengan warga lain.
Di sepanjang jalur tersebut, parit bukan sekadar saluran air.
Saat hujan turun deras, arusnya bisa mengikis tanah di sekitarnya.
Dalam kondisi seperti itu, jarak satu meter bukan lagi sekadar angka—melainkan batas tipis antara struktur yang bertahan atau ambruk.
Sebagian warga bahkan mencoba memahami logika di balik keputusan teknis tersebut.
Mengapa tiang ditempatkan begitu dekat dengan parit, bukan di titik yang lebih aman?
“Kalau tanahnya tergerus, bagaimana nanti?” kata warga lain.
Pertanyaan itu menggantung, tanpa jawaban pasti.
Dalam praktik konstruksi jaringan listrik, penempatan tiang bukan perkara sederhana.
Ia melibatkan perhitungan teknis—mulai dari stabilitas tanah, jarak aman, hingga potensi gangguan lingkungan.
Di wilayah dengan kontur tanah yang labil dan curah hujan tinggi seperti Jambi, faktor-faktor ini menjadi semakin krusial.
Ketika temuan di lapangan menunjukkan adanya tiang yang mulai miring bahkan sebelum jaringan terpasang, kekhawatiran warga menjadi sulit diabaikan.
Pihak PLN menyatakan akan menindaklanjuti kondisi tersebut.
Dalam keterangan yang disampaikan, PLN menyebutkan akan menurunkan tim teknis untuk melakukan pengecekan langsung di lokasi.
“Jika ditemukan ketidaksesuaian dengan standar, tentu akan dilakukan perbaikan,” ujar perwakilan PLN.
PLN juga menegaskan bahwa setiap pembangunan jaringan listrik harus mengacu pada standar keselamatan dan mempertimbangkan kondisi geografis setempat.
Namun, hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai alasan teknis di balik pemilihan titik pemasangan yang berada sangat dekat dengan parit.
Respons serupa datang dari Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Pemerintah daerah menyatakan akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan evaluasi lapangan.
“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas.
Kami akan memastikan ada peninjauan menyeluruh,” kata perwakilan pemerintah daerah.
Di balik pernyataan-pernyataan itu, tersisa pertanyaan yang lebih mendasar: apakah proses perencanaan proyek ini telah melalui kajian yang cukup? Ataukah ada aspek yang terlewat di tengah dorongan percepatan pembangunan?
Bagi warga, persoalan ini tidak berhenti pada aspek teknis.
Jalan itu mereka lalui setiap hari.
Parit itu mereka kenal betul saat musim hujan datang.
Dan tiang-tiang itu kini menjadi bagian dari lanskap yang memunculkan rasa waswas.
Mereka tidak menolak pembangunan. Justru sebaliknya, mereka menaruh harapan besar pada hadirnya jaringan listrik yang lebih baik.
Namun harapan itu, bagi mereka, seharusnya tidak datang bersama risiko.
Menjelang siang, aktivitas di jalan itu kembali berjalan seperti biasa.
Kendaraan melintas, warga beraktivitas, dan tiang-tiang listrik tetap berdiri di tempatnya.
Diam, tetapi menyimpan pertanyaan.
Di ruang antara pembangunan dan keselamatan, warga Tanjung Jabung Barat kini menunggu: apakah yang berdiri hari ini akan benar-benar kokoh untuk masa depan, atau justru menjadi masalah yang perlahan muncul di kemudian hari.
(Jurnalis; Apriandi Tj)






.jpg)



