Tragedi Apparalang dan Pudarnya Naluri Menolong


Sambar.id Opini || Tragedi yang terjadi di kawasan wisata Apparalang, Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, meninggalkan duka yang mendalam. Namun di balik peristiwa tersebut, ada pelajaran penting yang perlu menjadi bahan renungan bersama, yaitu bagaimana masyarakat merespons sebuah keadaan darurat di tengah era media sosial.


Beredarnya video kejadian yang memperlihatkan detik-detik musibah memunculkan pertanyaan besar tentang posisi kemanusiaan kita saat ini. Ketika seseorang berada dalam kondisi yang mengancam nyawa, apakah yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita adalah membantu, atau justru mengabadikan peristiwa tersebut?


Tentu tidak adil jika seluruh orang yang berada di lokasi dianggap tidak peduli. Tidak semua orang memiliki kemampuan berenang, keterampilan penyelamatan, atau keberanian menghadapi situasi berisiko tinggi. Ketakutan dan kepanikan adalah reaksi yang manusiawi. Namun, keterbatasan tersebut tidak berarti menghilangkan tanggung jawab moral untuk berbuat sesuatu.


Dalam kondisi darurat, bantuan tidak selalu harus berupa tindakan heroik. Berteriak meminta pertolongan, menghubungi petugas, mencari orang yang memiliki kemampuan penyelamatan, menyiapkan alat bantu, atau membantu mengamankan lokasi merupakan bentuk kepedulian yang dapat memberikan peluang keselamatan bagi korban.


Yang menjadi persoalan adalah ketika budaya merekam lebih cepat hadir daripada budaya menolong. Fenomena ini semakin terlihat seiring berkembangnya media sosial, di mana setiap peristiwa dianggap layak menjadi konten. Akibatnya, tragedi yang seharusnya menjadi panggilan kemanusiaan justru berubah menjadi tontonan publik.


Kita harus jujur mengakui bahwa masyarakat sedang menghadapi tantangan baru. Kemajuan teknologi memberikan kemudahan dalam mendokumentasikan peristiwa, tetapi pada saat yang sama berpotensi mengurangi sensitivitas sosial jika tidak diimbangi dengan pendidikan moral dan etika digital.


Tragedi Apparalang seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi semua pihak. Pengelola wisata perlu memperkuat aspek keselamatan pengunjung. Pemerintah perlu meningkatkan edukasi tanggap darurat. Masyarakat perlu dibekali pengetahuan dasar pertolongan pertama dan keselamatan di kawasan wisata alam. Sementara media sosial harus digunakan secara lebih bijaksana dan bertanggung jawab.


Pada akhirnya, ukuran kemajuan suatu masyarakat bukanlah seberapa cepat sebuah video menjadi viral, melainkan seberapa cepat masyarakat bergerak untuk menyelamatkan sesama manusia yang sedang berada dalam bahaya.


Duka di Apparalang hendaknya tidak berhenti sebagai berita semata. Peristiwa ini harus menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan, empati, dan kepedulian sosial tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat.


Ketika musibah terjadi di depan mata, pertanyaan yang paling penting bukanlah "Apakah ini layak direkam?", melainkan "Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?"


Sebab pada akhirnya, kemanusiaan tidak diukur dari apa yang kita tonton, tetapi dari apa yang kita lakukan untuk sesama.Arif Dinata Pegiat Sosial dan Pemerhati Kepentingan Publik



Arif Dinata

Pegiat Sosial dan Pemerhati Kepentingan Publik

Lebih baru Lebih lama