Sambar. Id Pekalongan – Pemerintah Kabupaten Pekalongan menegaskan komitmennya menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman musim kemarau panjang yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas instansi, percepatan normalisasi saluran irigasi, hingga penyediaan perlindungan bagi petani.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan (PSP) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pekalongan, Sutanto, saat ditemui di sela kegiatan bersih-bersih sampah dan sedimentasi di saluran irigasi Sudikampir, Desa Kalipancur, Kecamatan Bojong, Rabu (15/7/2026) pagi.
Menurut Sutanto, pemerintah daerah terus menjalin komunikasi dengan pemerintah provinsi, pemerintah pusat, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian.
Ia mengatakan, salah satu langkah yang terus didorong adalah percepatan normalisasi saluran irigasi yang mengalami sedimentasi. DKPP juga telah berkoordinasi dengan Balai Pengelolaan Wilayah Sungai (BPWS) agar penanganan dapat segera direalisasikan.
Selain itu, pihaknya terus mengusulkan program penggalian sumber-sumber air melalui Kementerian Pertanian sebagai upaya menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.
"Kami sudah berkomunikasi dengan BPWS terkait normalisasi saluran irigasi. Sementara melalui Kementerian Pertanian, kami juga terus mendorong penggalian sumber-sumber air di Kabupaten Pekalongan. Harapannya, apabila nanti terjadi kekeringan, dampaknya bisa diminimalisir," ujar Sutanto.
Tak hanya itu, pemerintah juga terus mengoptimalkan Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebagai bentuk perlindungan terhadap petani apabila terjadi gagal panen akibat bencana maupun perubahan iklim.
“Selain itu, pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat juga memiliki program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Program ini diharapkan bisa memberikan perlindungan kepada petani sehingga mereka tetap semangat bertani,” tambahnya.
Menanggapi peluang musim tanam ketiga atau yang dikenal petani sebagai nyadon, Sutanto mengimbau petani tetap memanfaatkan lahan selama masih tersedia sumber air yang memadai.
Menurutnya, petani tidak perlu ragu untuk tetap menanam karena tanaman padi pada dasarnya membutuhkan kecukupan air, bukan harus selalu tergenang.
"Kalau memang sumber airnya masih ada, monggo petani tetap bertani. Padi itu bukan tanaman air, tetapi tanaman yang membutuhkan air. Jadi selama masih ada sumber air, saya berharap petani tetap semangat menanam," katanya.
Sutanto juga mengajak petani tetap optimistis karena pemerintah terus menghadirkan berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan sektor pertanian.
"Banyak program dari Presiden Prabowo yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani. Sekarang harga gabah juga sudah cukup baik. Insyaallah, dengan berbagai dukungan yang ada, petani kita bisa semakin sejahtera," pungkasnya. (*)










