SAMBAR.ID, Parimo, Sulteng - Proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di Desa Padaelo, Kecamatan Ongka Malino, Kabupaten Parigi Moutong, menuai sorotan warga. Masyarakat mempertanyakan fungsi saluran yang dibangun karena dinilai belum mampu mengalirkan air ke lahan pertanian.
Sejumlah warga menyebut sebagian saluran dibangun mengikuti badan jalan, sementara pasangan batu yang dikerjakan dinilai belum terhubung dengan sumber air. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas bangunan sebagai jaringan irigasi.
Seorang sumber yang mengetahui proses pelaksanaan pekerjaan mengatakan, proyek yang dikerjakan Kelompok Tani Rawa Kalong dengan nilai sekitar Rp195 juta diduga belum memberikan manfaat optimal sebagai jaringan irigasi.
"Kalau memang di sekitar sawah ada sumber air, seharusnya yang dibangun saluran irigasi yang benar-benar dapat mengalirkan air, bukan sekadar pasangan batu. Saya juga meyakini pelaksanaannya tidak melalui musyawarah terbuka yang benar-benar melibatkan masyarakat. Kalau memang ada musyawarah, tentu ada berita acara atau notulen rapat yang menunjukkan siapa saja yang hadir," ujarnya kepada wartawan.
Menanggapi hal tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III membantah bahwa penentuan jalur dilakukan sepihak. Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Senin (13/7/2026), PPK menjelaskan bahwa trase saluran telah ditetapkan melalui musyawarah antara pemerintah desa, Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), dan kelompok tani.
"Perencanaannya sudah ditetapkan melalui musyawarah kelompok P3A bersama pemerintah desa. Jalur yang dikerjakan merupakan hasil kesepakatan dalam forum tersebut," kata PPK.
PPK juga menjelaskan bahwa BWSS III tidak mengelola langsung anggaran proyek karena dana disalurkan ke rekening kelompok tani, sedangkan pelaksanaan pekerjaan menjadi tanggung jawab kelompok penerima.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab keraguan sebagian warga terkait fungsi bangunan yang telah dikerjakan. Warga berharap BWSS III dapat membuka dokumen perencanaan, berita acara musyawarah, gambar teknis, serta dasar penetapan trase saluran agar pelaksanaan proyek lebih transparan dan dapat dipahami masyarakat.
Sejumlah pihak juga menilai pembangunan jaringan irigasi seharusnya mengutamakan aspek teknis agar mampu menjalankan fungsi utamanya, yakni mengalirkan air ke lahan pertanian sesuai tujuan program.
Hingga berita ini diterbitkan, Ketua Kelompok Tani Rawa Kalong, Sukri, belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan juga belum membuahkan hasil karena nomor WhatsApp yang bersangkutan tidak dapat dihubungi.
Masyarakat berharap seluruh pihak terkait dapat memberikan penjelasan secara terbuka sehingga manfaat proyek yang dibiayai dari uang negara benar-benar dapat dirasakan oleh petani.**/Red
Source : TINOMBALA.COM










