BULUKUMBA, Sambar.id — Di tengah dunia yang semakin sibuk dengan layar, notifikasi, dan media sosial, sebuah pesan sederhana datang dari Lapangan Dauhe, Desa Darubiah, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan: lupakan sejenak handphone, tatap dunia, dan belajar menjadi manusia.
Pesan itu mengemuka saat Perkemahan dalam rangka memperingati Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026 resmi dibuka pada Selasa, 11 Agustus 2026. Kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 11–14 Agustus 2026 di Lapangan Dauhe, Desa Darubiah.
Perkemahan tersebut diselenggarakan Kwartir Ranting Bontobahari sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pramuka ke-65.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Bontobahari selaku Kamabiran, Danramil Bontobahari, Kapolsek Bontobahari, Kepala Kantor Kementerian Agama Kecamatan Bontobahari, Kepala PKM Kecamatan Bontobahari, para kepala desa dan lurah se-Kecamatan Bontobahari, Pengawas Pembina SD dan SMP se-Kecamatan Bontobahari, Pengurus Kwartir Ranting Bontobahari, para Kamabigus se-Kecamatan Bontobahari, serta Dewan Kerja Kwartir Ranting Bontobahari.
Kehadiran lintas unsur tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan karakter generasi muda bukan pekerjaan satu pihak. Pemerintah, sekolah, pembina, aparat, keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi penerus.
Ketika Layar Mulai Mengambil Ruang Masa Kanak-Kanak
Camat Bontobahari Andi Arfhan Syukri, ST., MT., dalam sambutannya menyoroti perubahan kehidupan anak-anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Handphone dan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, pada saat yang sama, muncul kecenderungan sebagian anak dan pelajar lebih tertarik menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan mengikuti kegiatan kepramukaan.
Karena itu, Pramuka tidak boleh hanya bernostalgia dengan masa lalu.
Gerakan Pramuka harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, meningkatkan kualitas pembinaan, memperluas keterampilan, memperkuat organisasi dan manajemen, serta menghadirkan kegiatan yang menarik bagi generasi muda.
Sebab, tantangan generasi hari ini bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi.
Informasi sudah berada di genggaman.
Tantangannya adalah bagaimana membentuk manusia yang mampu menggunakan informasi dengan karakter, tanggung jawab dan kebijaksanaan.
Perkemahan Bukan Sekadar Tenda
Di lapangan, anak-anak tidak sekadar mendirikan tenda atau mengikuti berbagai rangkaian kegiatan.
Mereka sedang belajar tentang kehidupan.
Di alam terbuka, peserta belajar hidup sederhana, bekerja sama, mematuhi aturan, menghargai perbedaan, menjaga lingkungan dan menyelesaikan persoalan bersama.
Mereka belajar bahwa kehidupan tidak selalu tentang diri sendiri.
Ada teman yang harus dihargai. Ada lingkungan yang harus dijaga. Ada aturan yang harus dipatuhi. Dan ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Nilai-nilai sederhana itulah yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter.
Sebab, pemimpin yang kuat tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan, keberanian, integritas dan kemampuan bekerja bersama orang lain.
Pemimpin Tidak Lahir dalam Satu Malam
Pemimpin masa depan tidak muncul secara tiba-tiba.
Ia ditempa dari kebiasaan-kebiasaan kecil sejak dini.
Datang tepat waktu.
Menaati aturan.
Berani bertanggung jawab.
Mampu bekerja dalam kelompok.
Menghormati orang lain.
Peduli terhadap lingkungan.
Dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Karena itu, Gerakan Pramuka memiliki posisi strategis dalam membangun generasi muda Indonesia yang mandiri, berakhlak, memiliki jiwa kebangsaan serta mampu menghadapi tantangan zaman.
Camat Bontobahari juga berharap para pembina dan pelatih terus memberikan pendampingan dengan penuh dedikasi serta menanamkan nilai-nilai Dasa Dharma dan Tri Satya dalam kehidupan sehari-hari.
Bonto Bahari Mengirim Pesan untuk Generasi Muda
Apa yang berlangsung di Lapangan Dauhe mungkin terlihat sebagai sebuah kegiatan tingkat kecamatan.
Namun pesan yang dibawanya jauh lebih besar.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk berinteraksi secara langsung, berbicara dengan sesama, bekerja dalam kelompok, belajar mandiri dan merasakan kehidupan tanpa perantara layar.
Pramuka hadir bukan untuk memusuhi teknologi.
Pramuka juga tidak mengajak generasi muda meninggalkan perkembangan zaman.
Sebaliknya, teknologi harus digunakan secara bijak, sementara karakter manusia tetap menjadi fondasi utamanya.
Sebab, ketika teknologi semakin pintar, manusia justru harus semakin berkarakter.
Perkemahan Hari Pramuka ke-65 di Bontobahari akhirnya bukan sekadar agenda tahunan.
Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak hanya berbicara tentang jalan, gedung dan infrastruktur.
Ada pembangunan yang jauh lebih panjang dan menentukan: membangun manusia.
Dan manusia yang sedang dibangun hari ini adalah generasi yang suatu saat akan menentukan wajah Bulukumba, Sulawesi Selatan, bahkan Indonesia.
Kegiatan tersebut resmi dibuka oleh Camat Bontobahari dengan harapan seluruh peserta mengikuti rangkaian perkemahan dengan sungguh-sungguh dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa depan.
Dari Lapangan Dauhe Desa Darubiah, pesan itu akhirnya menemukan maknanya:
Lupakan sejenak handphone. Tataplah dunia. Belajarlah dari sesama. Bangun karakter.
Sebab, pemimpin masa depan tidak sedang menunggu untuk dilahirkan.
Mereka sedang ditempa hari ini.
Jaya Pramuka. Jaya Bulukumba.
lpAs77M









