Dari Tiom ke Sentani: Buku Tentang Tanah Adat Diserahkan Kepada Moderator Dewan Gereja Papua


Sambar.id Sentani, Papua - Sebuah pertemuan sederhana namun sarat makna terjadi di Pos 7 Sentani, Jumat (13/3/2026) sekitar pukul 15.00 Waktu Papua Barat. Dalam suasana hangat dan penuh refleksi, pegiat literasi Papua, Angginak Sepi Wanimbo, menyerahkan karya tulisnya kepada Dr. Benny Giay.


Buku berjudul “Transmigrasi dan Hak Atas Tanah Adat Orang Asli Papua” itu bukan sekadar karya akademik, melainkan representasi kegelisahan dan suara hati masyarakat adat Papua yang selama ini bergulat dengan persoalan ruang hidup, identitas, dan keadilan.


Dr. Benny Giay, yang juga merupakan alumni SMP YPPGI Tiom, menerima langsung buku tersebut. Momen ini menjadi lebih dari sekadar seremoni—ia menjelma sebagai pertemuan gagasan antara generasi pejuang literasi dan tokoh gereja yang selama ini konsisten menyuarakan keadilan sosial di Tanah Papua.


Angginak Sepi Wanimbo menyampaikan bahwa buku tersebut lahir dari pergulatan panjang atas realitas di lapangan, khususnya terkait dampak kebijakan transmigrasi terhadap hak-hak masyarakat adat.


“Ini bukan hanya buku, tetapi suara dari tanah yang terus dipertanyakan keberpihakannya. Tanah adat bukan sekadar ruang fisik, tetapi identitas, sejarah, dan masa depan orang asli Papua,” ungkapnya.


Isu transmigrasi di Papua memang kerap menjadi sorotan. Dalam berbagai kajian, kebijakan ini dinilai berimplikasi pada perubahan struktur sosial, tekanan terhadap kepemilikan tanah adat, hingga potensi marginalisasi masyarakat lokal jika tidak dikelola secara adil dan berkelanjutan.


Penyerahan buku ini diharapkan menjadi pintu masuk dialog yang lebih luas—tidak hanya di kalangan gereja, tetapi juga pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya—agar kebijakan pembangunan di Papua tetap berpijak pada penghormatan terhadap hak-hak dasar masyarakat adat.


Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis, melainkan alat perjuangan untuk merebut keadilan dan menjaga martabat sebuah bangsa. (Kinaonak)

Lebih baru Lebih lama