Sambar.id, Bulukumba — Sabtu 28 Maret 2026, Harapan menjadikan Kecamatan Kindang sebagai sentra kopi unggulan kini mulai menemukan arah yang lebih jelas. Melalui langkah strategis, Pinisi Citra Bulukumba menyatakan kesiapannya menggandeng investor untuk mengembangkan komoditas kopi lokal hingga mampu menembus pasar ekspor.
Direktur Utama Zulkifli Saiye menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar rencana, melainkan bagian dari strategi nyata membangun sistem agribisnis kopi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Perseroda akan berkolaborasi dengan investor kopi yang memiliki kapasitas ekspor, dengan pola petik, olah, dan jual secara berkelanjutan. Ini penting agar kualitas kopi kita memenuhi standar pasar global,” ujarnya.
Langkah ini dinilai menjadi titik balik bagi pengembangan kopi di Kindang yang selama ini memiliki potensi besar, namun belum sepenuhnya dikelola secara maksimal. Berdasarkan hasil survei lapangan, hampir seluruh desa di wilayah ini memiliki kondisi geografis yang sangat ideal untuk budidaya kopi.
Beberapa wilayah yang dikenal sebagai sentra produksi di antaranya Na’na (Kelurahan Borong Rappoa), Desa Kindang, Kahayya, Desa Tamaona, Desa Orogading, Desa Anrihua, Desa Balibo, Desa Sipaenre, hingga Desa Garuntungan. Bahkan secara umum, seluruh desa di Kindang berpotensi menjadi kawasan pengembangan kopi.
Dengan kondisi dataran tinggi, iklim sejuk, serta karakter tanah yang subur, Kindang memiliki kemiripan dengan kawasan Kintamani yang telah lebih dahulu dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas tinggi di Indonesia.
Namun demikian, perbedaan utama terletak pada aspek pengelolaan. Di Kintamani, kopi tidak hanya diposisikan sebagai komoditas pertanian, tetapi telah berkembang menjadi identitas daerah yang didukung oleh sistem kelembagaan petani, sertifikasi, hingga integrasi dengan sektor pariwisata.
Hal inilah yang kini mulai diarahkan untuk diterapkan di Kindang. Melalui kolaborasi dengan investor, diharapkan akan tercipta sistem yang mampu menjaga kualitas produksi, meningkatkan nilai tambah, sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani.
Tidak hanya itu, pendekatan “petik–olah–jual” yang diusung juga diyakini mampu memutus rantai distribusi yang selama ini merugikan petani, sehingga harga jual kopi dapat lebih stabil dan menguntungkan.
Di sisi lain, masyarakat dan petani juga mendorong agar pengembangan kopi ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Pertanian dan Perkebunan sebagai lembaga teknis yang bertanggung jawab di sektor pertanian.
Sejumlah aspirasi muncul dari lapangan, mulai dari pentingnya pendampingan teknis, kemudahan akses bantuan, hingga perlunya respons cepat terhadap proposal kelompok tani.
“Yang dibutuhkan petani itu bukan sekadar bantuan, tapi pendampingan yang berkelanjutan dan pelayanan yang baik,” ujar salah satu petani kopi yang enggan disebutkan namanya di wilayah Kindang.
Petani juga berharap tidak ada lagi praktik yang dapat menghambat pengembangan, seperti birokrasi yang berbelit maupun pungutan yang tidak semestinya.
Menurut mereka, Dinas Pertanian dan Perkebunan harus benar-benar hadir sebagai pelayan petani, memberikan solusi, serta menjadi penggerak utama dalam pengembangan komoditas unggulan daerah.
Di tengah peluang besar yang ada, kolaborasi antara Perseroda, investor, pemerintah, dan petani menjadi kunci utama keberhasilan. Jika seluruh elemen ini mampu berjalan selaras, maka bukan tidak mungkin kopi Kindang akan berkembang menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasar global.
Selain berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani, pengembangan kopi juga berpotensi membuka peluang baru di sektor lain, seperti agrowisata berbasis perkebunan kopi, khususnya di wilayah dengan panorama alam seperti Kahayya.
Ke depan, kopi Kindang tidak hanya diharapkan menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga identitas daerah yang membanggakan, sebagaimana yang telah dicapai oleh Kintamani.
“Ini bukan hanya soal produksi, tapi bagaimana kita membangun sistem dari hulu ke hilir agar kopi Bulukumba punya daya saing global,” tegas Zulkifli Saiye.
Dengan langkah awal yang mulai terbangun, harapan besar kini bertumpu pada keseriusan semua pihak. Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan ditentukan oleh potensi semata, melainkan oleh bagaimana potensi itu dikelola secara nyata dan berkelanjutan.
Penulis: A.Syarif/Zulkifli Saiye (Dirut)






.jpg)



