Sebut Tiyo Ardianto Patron Pergerakan, Mahasiswa Sulteng Ajak Gerakan Kolektif Tanggapi Isu Nasional


DISKUSI tersebut menghadirkan Athif Muhyiddin Hishad, perwakilan mahasiswa dari Sulteng yang berlatar belakang jurusan (KPI)/F-IST 


SAMBAR.ID, Palu, Sulteng - Gaya komunikasi mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, kini tengah menjadi sorotan publik. Isu hangat tersebut dibedah secara mendalam dalam Podcast Resonara Episode 11, Jumat, (12/6/2026).


Diskusi tersebut menghadirkan Athif Muhyiddin Hishad, seorang perwakilan mahasiswa dari Sulawesi Tengah yang berlatar belakang jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Dalam pandangannya, Tiyo dinilai sukses menarik perhatian publik nasional berkat kombinasi ketajaman isi kritik dan strategi penyampaian pesan yang khas.


Athif menilai Tiyo sebagai satu-satunya sosok anak muda saat ini yang berani tampil frontal dari daerah untuk mengkritik pemerintah pusat di Jakarta. Keberanian tersebut didukung oleh akurasi analisis data dan logika yang kuat.


"Isi kritikan Tio hari ini. Dia bisa memprediksi secara tajam dan terbukti dengan pesan yang dia sampaikan. Dari dia men-framing dari baju yang sering dipakainya. Kalau kita lihat di konten-konten, di ranah-ranah ruang diskusi. Tio memberikan kita pesan tersirat bahwasannya MBG harus diusut. MBG harus diselidiki. MBG harus diperbaiki. Ada pemain di dalam ini," ujar Athif.


Ia menambahkan bahwa prediksi Tiyo terbukti dengan adanya tindakan hukum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). 


"Dari situ terbuktilah perkataan Tio hari ini. Terbukti perkataan Tio hari ini. Yaitu apa? Dia itu ditangkapnya, diprosesnya ex-ketua BGN. Yaitu Pak Dadan hari ini. Dan ditangkap. Bayangkan. Terbukti apa perkataannya. Terbukti daripada apa yang disuarakan hari ini," tuturnya.


Dari segi keilmuan komunikasi, Athif menjelaskan bahwa Tiyo piawai menggunakan teknik hook (daya pikat) untuk menarik atensi penguasa dengan cepat, salah satunya melalui langkah berani mengirimkan surat ke lembaga internasional seperti UNICEF. 


Meski beberapa pihak menilai gaya tersebut terlalu keras, Athif memandang hal itu bukan sebagai tindakan provokatif, melainkan bentuk ketegasan yang lahir dari keresahan murni mahasiswa dan masyarakat atas pengelolaan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).


"Penyampaiannya dengan sopan. Bahasa yang santun. Selayaknya halusnya orang Jawa berbicara. Meskipun dia tegas. Dengan halus tapi perkataan yang tegas. Diksi kata yang tepat. Untuk memberikan perkataan-perkataan yang satire. Dan mungkin tidak berapi-api. Tetapi kena di hati. Sarkas. Makanya hari ini Tio itu bisa still on the top. Tetap bertahan di atas. Dengan isi penyampaian dan cara menyampaikan," jelas Athif.


Melihat meluasnya gelombang aksi demonstrasi di berbagai daerah seperti Jakarta dan Kendari sebagai dampak dari kesadaran kolektif yang terbangun, Athif memprediksi situasi politik dan ekonomi di Indonesia berpotensi memicu pergerakan besar.


"Saya katakan. Reformasi jilid 2 dan revolusi bisa jadi akan. Terjadi. Dengan apa yang terjadi saat ini? Dengan prediksi yang Tios sudah katakan sebelumnya. Prediksi yang dia katakan bahwasannya MBG ini tidak baik-baik saja loh. Kepala BGN harus diperiksa. Terbukti tersangka korupsi di dalam instansi itu. Instansi yang sangat basah. Dan saya rasa reformasi jilid 2 dan revolusi bisa akan terjadi," tegasnya.


Sebagai representasi mahasiswa dari Sulawesi Tengah, Athif mengapresiasi tinggi rekam jejak Tiyo yang dinilainya layak disebut sebagai presiden mahasiswa Indonesia karena mampu bersanding satu panggung dengan tokoh-tokoh nasional.


"Tindak tanduk, track record hari ini, layak kita mengatakan Tio sebagai presiden mahasiswa Indonesia. Karena itu tadi, tidak ada yang seberani Tio," katanya.


Ia pun menutup pandangannya dengan menyerukan ajakan persatuan kepada seluruh elemen mahasiswa, khususnya di Kota Palu, agar menyudahi konflik internal kampus dan fokus mengawal isu-isu utama negara secara kolektif.


"Sebagai mahasiswa Sulteng, marilah kita bersama-sama, bung Tio hari ini ingin kita bergerak secara kolektif. Ingin terbangun kesadaran kolektif dari masyarakat dan mahasiswa, tidak ada lagi kita mau konflik interanl dalam kampus Mari kita bersatu dulu ayo, ada yang harus kita nomor satukan, jangan menomor duakan hal ini," pungkas Athif.***

Lebih baru Lebih lama