Tangis Haru Iringi Mimpi Jadi Dokter, Pemkab OKU Hadirkan Harapan Baru bagi Anak Berprestasi Kurang Mampu

SAMBAR.ID | BATURAJA – Suasana haru tak mampu dibendung saat enam anak berprestasi dari keluarga kurang mampu bertemu langsung dengan Bupati Ogan Komering Ulu (OKU), H. Teddy Meilwansyah S.STP., M.M., M.Pd., di Rumah Dinas Bupati OKU, Sabtu (20/6/2026).

 

Pertemuan ini bukan sekadar agenda seleksi beasiswa. Bagi para peserta, momen tersebut menjadi titik terang bagi cita‑cita yang selama ini hanya tersimpan dalam angan. Mimpi mengenakan jas putih dan menjadi tenaga medis yang bertahun‑tahun terasa sulit tercapai, kini mulai tampak nyata berkat kehadiran Pemerintah Kabupaten OKU melalui Program Beasiswa Kedokteran.

 


“Jangan pernah merasa minder karena berasal dari keluarga sederhana. Tunjukkan bahwa kalian mampu. Prestasi dan kerja keras adalah modal utama meraih masa depan. Pemerintah hadir untuk membantu mewujudkan mimpi kalian,” ujar Bupati Teddy Meilwansyah di hadapan para peserta dan orang tua.

 

Berdasarkan hasil seleksi ketat yang dilakukan panitia, dari total 19 pendaftar, hanya enam orang yang dinyatakan lolos tahap verifikasi administrasi, survei lapangan, serta memenuhi seluruh syarat program. Menurut Bupati, inisiatif ini bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan wujud nyata keberpihakan pemerintah terhadap potensi anak bangsa yang terkendala keterbatasan ekonomi.

 

“Ini bukan akhir perjuangan, melainkan awal perjalanan kalian. Seluruh proses berjalan objektif tanpa intervensi apa pun. Kelulusan selanjutnya ditentukan oleh kemampuan masing‑masing saat mengikuti tes masuk di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,” tegasnya.

 

Saat ini, Kabupaten OKU memperoleh kuota resmi sebanyak dua orang dari pihak UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Meski demikian, Bupati berjanji akan memperjuangkan penambahan kuota jika seluruh peserta mampu mencapai standar nilai atau passing grade yang ditetapkan.

 

“Kita memang diberi kuota dua orang. Namun jika keenam peserta ini memenuhi standar nilai, Insya Allah kami akan berusaha memperjuangkan agar kuota bisa ditambah,” ungkapnya. Pernyataan ini pun disambut penuh harapan oleh seluruh peserta yang hadir.

 

Dalam skema program ini, Pemkab OKU menanggung seluruh biaya pendidikan, biaya hidup, hingga tempat tinggal selama masa studi. Para penerima beasiswa hanya diminta untuk belajar dengan sungguh‑sungguh, lulus tepat waktu, dan kelak kembali mengabdi bagi masyarakat OKU.

“Kami ingin anak‑anak ini menjadi bukti bahwa kemiskinan tidak boleh menghalangi cita‑cita. Saya berharap suatu hari mereka berdiri sebagai dokter dan menceritakan kepada generasi penerus bahwa mimpi bisa terwujud lewat kesempatan yang dibuka pemerintah,” tambahnya.

 

Suasana paling mengharukan muncul saat Erika Juwita, siswi SMA Negeri 18 OKU asal Unit 14 Sinar Peninjauan, menyampaikan isi hatinya. Dengan suara bergetar dan mata berkaca‑kaca, ia mengaku impian menjadi dokter sempat terasa berat karena kondisi ekonomi keluarga.

 

“Cita‑cita saya menjadi dokter sudah ada sejak kecil. Tapi melihat keadaan keluarga, saya merasa itu hanya mimpi yang sulit digapai. Jangankan kuliah kedokteran, bermimpi pun saya takut. Program ini memberi harapan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya,” ucapnya sambil menahan tangis.

 

Hal serupa juga disampaikan Leni Hartati, orang tua peserta asal Batukuning. Ia mengaku tak pernah membayangkan anaknya bisa menempuh pendidikan kedokteran karena biaya yang besar.

 

“Untuk kebutuhan sehari‑hari saja kami kadang kesulitan. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Bupati serta Pemkab OKU atas harapan baru ini,” ujarnya dengan mata berkaca‑kaca.

 

Program Beasiswa Kedokteran Pemkab OKU dijadwalkan memasuki tahap pendaftaran resmi pada Senin (22/6/2026). Sebelum mengikuti tes masuk, para peserta akan mendapatkan pembinaan khusus dan bimbingan belajar intensif bekerja sama dengan lembaga Genza di bawah bimbingan Bagus Suparyono.

 

Di balik angka kuota dan tahapan seleksi yang ketat, tersimpan kisah perjuangan anak‑anak yang tak menyerah pada keadaan. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang utama untuk meraih cita‑cita setinggi langit.

 

* TIM*

Lebih baru Lebih lama