
Di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin 6 Juli 2026, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia
Sambar.id, Jakarta - Pemerintah tengah menyiapkan terobosan besar untuk menekan beban subsidi energi dengan melirik Compressed Natural Gas (CNG). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, harga CNG kemasan 3 kilogram (kg) diproyeksikan jauh lebih murah 30 hingga 40 persen dibandingkan LPG bersubsidi alias "gas melon".
Jika rencana ini berjalan mulus, negara berpotensi menghemat anggaran subsidi energi hingga puluhan triliun rupiah per tahun.
"Yang jelas harganya lebih murah 30 sampai 40 persen daripada LPG. Kalau 30 sampai 40 persen sekarang subsidi kita berapa? Rp86 triliun sampai Rp90 triliun. Kali rata-ratalah kalau katakanlah 25 persen, kali 30 persen, berarti kan Rp27 triliun sampai Rp30 triliun bisa kita lakukan efisiensi," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Sebenarnya, CNG bukan barang baru di Indonesia. Gas alam terkompresi ini sudah jamak digunakan oleh sektor hotel, restoran, kafe, hingga program Makan Bergizi Gratis. Namun, selama ini CNG didistribusikan dalam tabung besar berkapasitas 12 kg ke atas. Langkah ambisius pemerintah kali ini adalah mengemas CNG ke dalam tabung mini 3 kg agar bisa langsung menyasar dapur rumah tangga.
Tantangan utamanya terletak pada faktor keamanan. Karena karakteristiknya, tabung CNG 3 kg harus mampu menahan tekanan ekstrem berkisar 200 hingga 250 bar—jauh lebih tinggi dari tekanan tabung LPG konvensional.
Oleh karena itu, Bahlil menegaskan pihak kementerian tidak ingin gegabah. Seluruh rencana ini masih harus menunggu hasil uji coba tahap ketiga yang ditargetkan rampung pada Juli hingga Agustus 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa untuk tahap pengujian awal ini, pihaknya menyiapkan 15 unit prototipe tabung. Pengujian dilakukan langsung di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).
Kabar baiknya untuk masyarakat, skema distribusi CNG 3 kg ini didesain agar tidak mengubah kebiasaan lama. Mekanismenya akan sama persis dengan LPG saat ini, yaitu sistem tukar isi gas. Masyarakat tidak perlu membeli tabung baru karena kepemilikannya tetap di tangan badan usaha penyedia. Kompor gas yang ada di rumah pun dipastikan tidak perlu diganti.
Pangkas Impor, Hemat Devisa Ratusan Triliun
Selain urusan dompet masyarakat, migrasi ke CNG ini juga menjadi jurus jitu pemerintah untuk melepaskan diri dari ketergantungan impor. Saat ini, sekitar 75 hingga 80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipasok dari luar negeri, sehingga sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia.
Sebaliknya, pasokan CNG melimpah di dalam negeri dan bisa diproduksi 100 persen secara domestik. Konversi dari LPG ke CNG diproyeksikan mampu menyelamatkan devisa negara dalam jumlah fantastis, yakni berkisar antara Rp130 triliun hingga Rp137 triliun.
Terkait isu teknologi tabung yang sempat santer disebut akan didatangkan dari China, Bahlil memberikan klarifikasi. Pihaknya mengaku masih mengevaluasi beberapa opsi teknologi dari negara lain, termasuk Jerman.
Namun, Bahlil tidak menampik bahwa untuk tahap awal, tabung prototipe terpaksa didatangkan dari luar negeri. Sebab, industri manufaktur dalam negeri belum memproduksi massal tabung dengan spesifikasi tekanan setinggi itu.
Jika uji coba tahap ketiga ini dinyatakan sukses dan aman, pemerintah akan langsung tancap gas memulai pilot project di empat kota besar di Pulau Jawa, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Keputusan untuk melepas tabung CNG 3 kg secara nasional sepenuhnya bergantung pada jaminan keamanan total di tangan ibu rumah tangga.
Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin 6 Juli 2026.
#EnergiIndonesia #CNGpenggantLPG #BahlilLahadalia #SubsidiEnergi #KetahananEnergiNasional
@sbr_id/red









