MAKASSAR SAMBAR ID — Hasbi Syamsu Ali resmi memimpin Pengurus Provinsi Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (PERGATSI) Sulawesi Selatan masa bakti 2025–2029.
Hasbi bersama jajaran pengurus dilantik dan dikukuhkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar PERGATSI masa bakti 2024–2028, Diana Kusumastuti, di Hotel Claro Makassar, Jumat (4/9/2026) malam.
Diana Kusumastuti diketahui juga menjabat sebagai Wakil Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia.
Pelantikan tersebut dirangkaikan dengan Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) IV PERGATSI Sulsel Tahun 2026.
Bagi Hasbi, pergantian kepengurusan bukan sekadar perubahan struktur organisasi. Momentum tersebut harus menjadi titik awal untuk memperkuat ekosistem gateball di Sulawesi Selatan secara lebih terencana dan berkelanjutan.
"Prestasi tentu penting. Kita ingin melahirkan atlet-atlet berprestasi dan membawa nama Sulawesi Selatan ke tingkat nasional bahkan internasional," kata Hasbi.
Namun, ia menegaskan bahwa pengembangan gateball tidak boleh berhenti pada orientasi prestasi pertandingan.
Menurutnya, gateball juga memiliki potensi besar sebagai medium untuk membangun karakter, memperkuat persahabatan dan kebersamaan, sekaligus mendorong pola hidup sehat di tengah masyarakat.
Tak Sekadar Olahraga Memukul Bola
Pandangan Hasbi terhadap gateball tidak berhenti pada aspek teknis permainan.
Ia melihat olahraga yang berasal dari Jepang tersebut memiliki filosofi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari tentang bagaimana seseorang membaca situasi, menentukan arah, mengendalikan diri dan mengambil keputusan.
"Gateball lahir dari kesederhanaan. Ia bukan permainan yang membutuhkan fasilitas mewah atau kekuatan fisik yang luar biasa," ujarnya.
Menurut Hasbi, gateball pertama kali diciptakan di Jepang pada 1947. Permainan tersebut terinspirasi dari olahraga croquet dan kemudian berkembang menjadi olahraga yang dapat dimainkan lintas usia.
Gateball selanjutnya menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Tanah Air, olahraga ini mulai dikenal sekitar 1994 di Bali.
PERGATSI kemudian dideklarasikan pada 2011 sebagai wadah nasional olahraga gateball. Dua tahun kemudian, gateball tercatat sebagai cabang olahraga prestasi dan menjadi anggota KONI.
Bagi Hasbi, daya tarik gateball justru terletak pada karakter permainannya yang menggabungkan ketepatan, strategi dan pengambilan keputusan.
Seorang pemain tidak bisa sekadar memukul bola. Sebelum menentukan pukulan, pemain harus membaca situasi permainan, memperhitungkan posisi bola sendiri dan lawan, menentukan arah, sekaligus mengukur risiko.
"Yang lebih penting adalah kemampuan menentukan arah dan mengambil keputusan yang tepat," katanya.
Menurut Hasbi, satu pukulan dapat memengaruhi keseluruhan jalannya pertandingan. Kesalahan dalam menentukan arah dapat menghasilkan konsekuensi yang panjang.
"Setiap keputusan memiliki konsekuensi. Maka kita harus belajar tenang, berpikir sebelum bertindak, membaca keadaan dan menentukan momentum," tuturnya.
Belajar Mengendalikan Ego
Filosofi tersebut, kata Hasbi, juga terlihat dalam permainan beregu. Kemenangan tidak selalu ditentukan oleh pemain yang paling menonjol. Dalam situasi tertentu, seorang pemain justru harus mengambil keputusan yang memberikan ruang bagi rekannya untuk menciptakan peluang.
"Kadang-kadang kita harus mengambil peran yang tidak terlihat, tetapi justru menentukan keberhasilan tim," ucapnya.
Karena itu, gateball menurut Hasbi juga mengajarkan pentingnya mengendalikan ego. Setiap pemain memiliki peran dan setiap keputusan harus ditempatkan dalam kepentingan tim. Kemampuan bekerja sama menjadi bagian penting dari strategi untuk mencapai kemenangan.
Filosofi tersebut ingin dibawa Hasbi ke dalam kepengurusan PERGATSI Sulsel. Ia berharap organisasi tidak hanya menghasilkan atlet yang mampu memenangkan pertandingan, tetapi juga membangun lingkungan olahraga yang menumbuhkan karakter, sportivitas, persahabatan dan kebersamaan.
Perkuat Pembinaan dan Kompetisi
Untuk mewujudkan target tersebut, Hasbi menyiapkan sejumlah agenda penguatan organisasi selama periode kepengurusannya.
Pembinaan atlet menjadi salah satu fokus utama. Di saat yang sama, kapasitas pelatih dan wasit juga akan diperkuat.
Pengembangan gateball di daerah serta peningkatan kualitas kompetisi menjadi agenda lain yang dinilai penting untuk membangun ekosistem olahraga yang lebih sehat.
"Kita ingin organisasi ini bekerja dengan perencanaan yang jelas," katanya.
Hasbi juga ingin memperluas pengenalan gateball kepada kelompok masyarakat yang lebih beragam, termasuk generasi muda.
Ia menilai masih ada persepsi bahwa gateball merupakan olahraga yang identik dengan kelompok usia tertentu. Persepsi tersebut menurutnya perlu diubah.
"Gateball jangan hanya dipersepsikan sebagai olahraga untuk kelompok usia tertentu," ujarnya.
Menurut Hasbi, gateball dapat dimainkan anak muda maupun orang tua, laki-laki maupun perempuan.
"Di situlah kekuatan gateball sebagai olahraga yang inklusif," katanya.
Dari Pengalaman Organisasi ke PERGATSI
Hasbi sendiri bukan sosok baru dalam dunia organisasi olahraga maupun profesi di Sulawesi Selatan.
Pria kelahiran 26 November 1964 itu merupakan lulusan Teknik Sipil Universitas Hasanuddin. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen di universitas yang sama pada 2012.
Pengalaman profesional dan organisasinya banyak bersentuhan dengan dunia konstruksi dan profesi keinsinyuran.
Hasbi yang saat ini menjabat Ketua Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan ini pernah memimpin Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Provinsi Sulsel periode 2016–2020.
Ia juga aktif dalam sejumlah organisasi profesi dan dunia usaha, antara lain Persatuan Insinyur Indonesia Sulsel, GAPENSI, KADIN Sulawesi Selatan dan Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia.
Di PERGATSI Sulsel, Hasbi sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua sejak 2017.
Pengalaman panjang tersebut kini menjadi modal untuk membawa PERGATSI Sulsel memasuki periode kepengurusan baru dengan program yang lebih terukur.
Ia berharap organisasi dapat berjalan tidak hanya dengan rutinitas, tetapi memiliki arah pembinaan yang jelas dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat.
"Tidak Harus Memukul Keras"
Pada akhirnya, Hasbi melihat filosofi gateball sebagai sesuatu yang jauh lebih luas daripada permainan di atas lapangan.
Baginya, olahraga tersebut mengajarkan manusia untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan, membaca keadaan, menentukan arah, mengendalikan ego dan memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
"Dalam gateball, kita tidak dituntut untuk selalu memukul bola dengan keras. Kita dituntut untuk memukul dengan tepat," ujar Hasbi.
Filosofi itu, menurutnya, juga relevan dalam kehidupan. Ketepatan dalam menentukan arah, kemampuan membaca situasi, keberanian mengambil keputusan dan kesediaan bekerja bersama menjadi rangkaian yang menentukan keberhasilan.
"Kemenangan adalah hasil dari rangkaian keputusan yang tepat," pungkasnya. (Red)
Editor: Daeng Pagiling










