Dikeroyok Hingga Pelipis Pecah, Mahasiswa UIN Palu Tolak Damai dan Tempuh Jalur Hukum

CAPTION FOTO : Aswad mengalami luka robek di bagian pelipis dan rasa sakit pada punggung, hingga harus mendapatkan perawatan medis darurat di UKS kampus/F-IST.


SAMBAR.ID, Palu, Sulteng - Lagi, Aksi penganiayaan dan pengeroyokan terjadi di lingkungan kampus UIN Datokarama Palu pada Senin (5/10/2026) sekitar pukul 09.00 WITA. Insiden yang berlangsung di Koridor Lantai 2 Gedung SBSN tersebut menimpa seorang mahasiswa bernama Aswad Purwana, serta seorang mahasiswi yang berusaha melerai kejadian.


Akibat peristiwa itu, Aswad mengalami luka robek di bagian pelipis dan rasa sakit pada punggung, hingga harus mendapatkan perawatan medis darurat di UKS kampus. Kejadian bermula saat korban beserta rekan-rekannya bersenda gurau bersama dosen di dalam kelas. Usai perkuliahan, dua rekan korban, Bambang dan Dhani, keluar kelas sambil merokok dan tertawa.


Namun, sikap tersebut direspons negatif oleh sekelompok anggota Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) yang berada di lantai bawah, hingga memicu adu mulut. “Awalnya kami cuma bercanda dengan dosen di kelas, terus kami ketawa-ketawa. Setelah itu, Bambang dan Dani keluar merokok sambil masih ketawa, tapi malah ditegur dan diteriaki sama anak-anak Mapala di bawah,” ujar Aswad.


Situasi kian memanas ketika Aswad keluar kelas untuk mengambil binder. Meski berniat netral, korban justru mendapat intimidasi verbal dari kelompok tersebut.


"Pas saya keluar ambil binder, saya cuma nengok ke bawah dengan muka datar, tapi dorang malah bentak dan tunjuk saya, 'Apa kau haga-haga?'. Saya tanya 'Kenapa? Tidak bisa?' dorang langsung maki saya dengan kata-kata kotor,” tutur Aswad.


Kekerasan fisik pun tak terhindarkan saat salah satu oknum bernama Muh Reski (diidentifikasi sebagai Korlap PBAK 2026) mendatangi korban ke lantai atas, disusul terduga pelaku lain bernama Akbil. Kerah baju korban ditarik dan dipukul secara bersama-sama di koridor gedung.


"Habis itu, Muh Reski lari naik ke atas samperi saya. Dia langsung bentak, pegang kerah baju saya, dan coba memukul. Setelah itu, Akbil dan yang lainnya ikut menahan pergerakan saya. Sempat menghindar tapi pukulan kedua itu masuk sampai bikin pelipis saya pecah," ungkapnya.


Pengeroyokan tersebut diperkirakan melibatkan lebih dari lima orang. Seorang mahasiswi yang mencoba memisahkan kerumunan turut menjadi korban setelah terkena pukulan berulang kali dari arah belakang oleh salah satu pelaku. Dugaan sementara menyebutkan para pelaku melakukan aksinya di bawah pengaruh alkohol.


Berdasarkan pemberitaan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Qalamun, pemicu bentrok didasari kesalahpahaman. Pihak pelaku merasa tersinggung dengan sikap rekan-rekan Aswad.


"Wajar kami merasa tersinggung kalau sistem pendidikan kami ditertawakan, kami tidak sembarangan memukul orang dan tidak ingin mencari masalah dengan siapa pun," jelas Ketua Umum Mapala dalam pemberitaan LPM Qalamun.


Atas insiden ini, Aswad secara tegas menolak segala bentuk penyelesaian kekeluargaan atau mediasi internal kampus. Ia telah resmi melaporkan dugaan tindak pidana pengeroyokan ini ke Polresta Palu dengan nomor laporan LP/B/1189/X/2026/SPKT/POLRESTA PALU/POLDA SULAWESI TENGAH.


Penyelidikan kini ditangani oleh Satreskrim Polresta Palu sebagaimana tertuang dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) Nomor: B/1524/X/2026/Satreskrim tertanggal 9 Oktober 2026.


"Saya sangat tidak terima jika masalah ini diselesaikan lewat kekeluargaan. Apalagi saya dikeroyok hingga luka di pelipis.


Saya hanya ingin mencari keadilan bagi saya dan korban cewek yang ikut dipukul," tegas Aswad.Korban berharap civitas akademika dan masyarakat dapat mengawal penanganan kasus ini di kepolisian agar tindakan kekerasan maupun praktik senioritas di lingkungan kampus tidak terulang kembali.**/Red.

Lebih baru Lebih lama