GAYO LUES | SAMBAR.ID – Semangat anak-anak Desa Remukut, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, patut mendapat apresiasi. Pasca musibah banjir bandang yang melanda wilayah tersebut, para pelajar tetap berjuang menempuh pendidikan meski harus berjalan kaki sejauh lebih dari tiga kilometer setiap hari.
Banjir bandang yang terjadi pada Rabu, 26 Januari 2025 lalu, menyebabkan akses transportasi dari Desa Remukut menuju Desa Ketukah, Kecamatan Blangjerango, terputus. Akibatnya, kendaraan roda dua yang biasa digunakan para siswa untuk berangkat ke sekolah tak lagi dapat melintas.
Kondisi itu tidak menyurutkan langkah anak-anak sekolah. Dengan berjalan kaki menyusuri jalur yang terdampak banjir, mereka tetap berangkat pagi hari demi mengikuti proses belajar bersama teman-temannya.
“Biasanya kami ke sekolah naik sepeda motor. Sejak banjir bandang, jalan rusak dan tidak bisa dilewati, jadi kami jalan kaki,” ujar salah seorang siswa SMP kepada awak media online di Kabupaten Gayo Lues.
Jarak yang harus ditempuh tidaklah ringan. Sekitar tiga kilometer lebih dilalui dengan berjalan kaki, melewati kondisi jalan yang belum sepenuhnya pulih pascabencana. Namun, keterbatasan itu justru menjadi bukti kuatnya tekad anak-anak desa untuk tetap mengenyam pendidikan.
Warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk segera memperbaiki akses jalan dan sarana transportasi pendidikan. Pasalnya, kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan pelajar, tetapi juga berdampak pada aktivitas masyarakat secara keseluruhan.
Semangat anak-anak Desa Remukut menjadi potret keteguhan generasi muda di tengah keterbatasan, sekaligus pengingat bahwa pendidikan tetap harus berjalan meski bencana menghadang.
Laporan: Idris








