SAMBAR.ID, Donggala, Sulteng - Forum Pemuda Kaili (FPK) Sulawesi Tengah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) bersama warga di Labuan Toposo, Kabupaten Donggala, Senin (9/2/2026). Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat barisan warga dalam menolak rencana pertambangan emas di wilayah tersebut.
Perwakilan FPK Sulteng, Moh. Raslin Chily, menegaskan bahwa kehadiran tambang emas di Labuan Toposo hanya akan membawa dampak buruk yang berkepanjangan bagi lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat setempat.
"Menerima tambang berarti siap menerima bencana. Aktivitas ini akan berdampak buruk bagi ekologi, sosial, dan potensi bencana alam di masa depan," ujar Raslin dalam keterangannya, Senin (9//2/2026).
Menurut Raslin, kelestarian alam merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar. Ia menyoroti pentingnya menjaga sumber air bersih yang menjadi tumpuan hidup warga agar tidak tercemar oleh limbah pertambangan.
"Jangan biarkan tambang merusak alam kita. Air merupakan sumber kehidupan warga, jangan biarkan tercemar demi tambang," tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa ketahanan pangan masyarakat jauh lebih penting daripada hasil tambang yang bersifat sementara.
Ia mengibaratkan bahwa kemakmuran sejati masyarakat desa berasal dari hasil bumi dan pertanian, bukan dari logam mulia."Bukan emas yang bikin kenyang, tapi nasi dari beras," pungkas Raslin.
Aksi penolakan ini diakhiri dengan seruan bersama untuk menjaga keaslian alam Labuan Toposo dengan slogan perlawanan: "Hancur alamku, tercemar sungaiku."
Hingga berita ini diturunkan, warga berkomitmen untuk terus mengawal isu ini agar izin pertambangan tidak diterbitkan.***






.jpg)



