Sambar.id BULUKUMBA – Siang itu, langit di atas Pantai Bira tak lagi biru seperti biasanya. Asap hitam perlahan membumbung tinggi, menelan cakrawala indah Tanjung Bira. Kobaran api mengamuk tanpa ampun, melahap satu demi satu bagian bangunan Paddupa Resort yang berdiri di Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Selasa (03/03/2026).
Tempat yang selama ini menjadi persinggahan hangat para pelancong—saksi tawa wisatawan, cerita keluarga, dan debur ombak yang menenangkan—mendadak berubah menjadi lautan api. Suara kayu runtuh disertai letupan bara memecah ketenangan siang, menyisakan kepanikan dan tatapan tak percaya dari warga sekitar.
Beberapa warga berlari mendekat dengan perasaan cemas, sebagian lainnya hanya mampu berdiri terpaku, menyaksikan bangunan itu perlahan luluh lantak.
“Apinya cepat sekali membesar… tidak sampai hitungan menit sudah tinggi,” tutur seorang warga dengan suara bergetar.
Empat unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi. Namun derasnya kobaran membuat petugas kewalahan. Saat armada tiba, si jago merah lebih dulu menguasai hampir seluruh bagian bangunan. Petugas berjibaku di tengah panas menyengat dan kepulan asap tebal, berupaya mencegah api merambat ke bangunan lain di kawasan wisata tersebut.
Hingga kini, kerugian akibat kebakaran belum dapat ditaksir. Penyebab pasti peristiwa memilukan itu pun masih menjadi tanda tanya dan menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang.
Di tengah geliat pariwisata yang terus tumbuh di selatan Sulawesi, musibah ini menjadi luka yang membekas di jantung Tanjung Bira. Asap mungkin akan hilang tertiup angin laut, puing-puing mungkin akan dibersihkan, namun ingatan tentang siang yang membara itu akan lama tinggal dalam benak warga—dan dalam sunyi yang tersisa di tepi pantai yang biasanya riang.
AS.Mappasomba






.jpg)





