Perseroda Jadi Harapan Baru PAD, Tokoh Daerah Dorong Kemandirian Ekonomi Bulukumba

Sambar.id, Bulukumba — Rabu 28 Maret 2026, Sejumlah tokoh masyarakat dan pemerhati pembangunan daerah mendorong Pemerintah Kabupaten Bulukumba untuk lebih serius mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) melalui Perseroda sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).


Pernyataan tersebut mengemuka dalam diskusi santai yang berkembang di tengah masyarakat, dengan berbagai pandangan strategis terkait kondisi ekonomi nasional, kebijakan energi, hingga peluang pengelolaan aset daerah.


P Zulkifli  menegaskan bahwa daerah tidak bisa lagi terlalu bergantung pada transfer anggaran dari pemerintah pusat. Menurutnya, kondisi fiskal nasional yang sedang tertekan menuntut daerah untuk lebih mandiri dan kreatif.


“Kalau Pemda mau dapat PAD, maka harus memberdayakan Perseroda untuk melakukan proses bisnis yang jelas agar bisa menghasilkan dividen. Ini bisa jadi sumber pendapatan daerah,” ujar Zulkifli.


Ia juga menambahkan bahwa pengelolaan sektor strategis seperti kepelabuhanan dapat menjadi peluang besar, terutama jika aset tersebut berada di bawah kewenangan pemerintah daerah.


“Kalau aset pelabuhan milik Pemda, itu bisa dikelola oleh Perseroda. Ini salah satu potensi besar untuk meningkatkan PAD sekaligus menggerakkan ekonomi lokal,” tambahnya.


Lebih lanjut, Zulkifli menekankan pentingnya percepatan birokrasi dan fleksibilitas kebijakan dalam mendukung investasi dan pengembangan usaha daerah.


“Yang penting Pemda gerak cepat, administrasi jangan lambat dan jangan terlalu kaku. Gunakan kebijakan yang bisa mempermudah,” tegasnya.


Dukungan terhadap gagasan tersebut juga disampaikan oleh Andi Waris, yang mengapresiasi pemikiran strategis dalam mendorong kemandirian ekonomi daerah.


“Salut dengan pemikiranta Pak Zul, luar biasa. Semoga sudah ada perencanaan dan aplikasinya bisa segera terlaksana,” ungkapnya.


Namun demikian, Andi Waris juga mengingatkan bahwa kondisi global saat ini turut memberikan tekanan terhadap ekonomi nasional, termasuk potensi dampak dari konflik geopolitik internasional.


“Perkembangan global sangat berdampak ke Indonesia. Jalur seperti Hormuz sangat vital. Kalau terganggu, dampaknya besar bagi kita,” jelasnya.


Sementara itu, Andi Didi menegaskan bahwa Perseroda harus benar-benar dijadikan sebagai ujung tombak dalam meningkatkan pendapatan daerah, bukan sekadar wacana.


“Perseroda harus jadi garda terdepan Pemda untuk mencari dana. Harus kerja, bukan hanya cerita,” tegasnya.


Di sisi lain, Akhmad Rivandi menyoroti aspek kebijakan energi yang dinilai sebagian masyarakat mulai menimbulkan kejenuhan.


“Ini mungkin aspirasi masyarakat yang sudah lelah dengan retorika kebijakan energi,” ujarnya dengan nada ringan.


Diskusi tersebut juga sempat menyinggung pentingnya pengelolaan sumber daya alam nasional, termasuk sektor energi, agar lebih memberikan manfaat bagi masyarakat luas.


Secara umum, para tokoh sepakat bahwa kunci utama pembangunan daerah ke depan terletak pada keberanian pemerintah daerah dalam berinovasi, mempercepat proses administrasi, serta mengoptimalkan potensi lokal melalui lembaga usaha daerah yang profesional.


Dengan langkah tersebut, diharapkan perputaran ekonomi dapat lebih banyak terjadi di daerah, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan.


(Andi Syarifuddin)

Lebih baru Lebih lama