Oleh : Dr. Marjun Pakaya S.E,.MM Dosen Pasca Sarjana Universitas Alkhairaat
SAMBAR.ID, Opini - Kegagalan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran dalam perundingan terbaru kembali menegaskan satu hal penting: konflik geopolitik tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa efek berantai yang luas, terutama terhadap stabilitas ekonomi global.
Di tengah harapan dunia terhadap meredanya ketegangan, kegagalan diplomasi ini justru memperpanjang ketidakpastian. Kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat energi dunia kembali berada dalam bayang-bayang konflik.
Dampaknya langsung terasa pada sektor energi, di mana harga minyak global berpotensi melonjak akibat terganggunya produksi dan distribusi, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Kenaikan harga energi bukan sekadar angka di pasar komoditas, tetapi menjalar hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat global. Inflasi menjadi ancaman nyata, mendorong kenaikan biaya transportasi, produksi, hingga harga kebutuhan pokok. Dalam kondisi seperti ini, daya beli masyarakat tertekan, sementara dunia usaha harus menghadapi biaya operasional yang semakin tinggi.
Di sisi lain, pasar keuangan global menunjukkan respons yang tidak kalah signifikan. Ketidakpastian geopolitik membuat investor cenderung bersikap defensif.
Volatilitas pasar saham meningkat, dengan potensi aksi jual yang dapat memperburuk stabilitas ekonomi. Pasar tidak hanya bereaksi terhadap fakta, tetapi juga terhadap kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih besar.
Lebih jauh, risiko resesi global kembali menghantui. Jika konflik terus berlanjut atau bahkan meningkat, gangguan pasokan energi dan melemahnya kepercayaan investor dapat mendorong perlambatan ekonomi di berbagai negara. Dunia yang belum sepenuhnya pulih dari tekanan ekonomi sebelumnya kini dihadapkan pada ancaman baru yang tidak kalah serius.
Fenomena ini juga mempercepat fragmentasi ekonomi global. Negara-negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok tertentu dan mencari alternatif yang lebih aman secara geopolitik.
Di satu sisi, langkah ini bisa memperkuat ketahanan nasional, namun di sisi lain berpotensi menghambat efisiensi dan pertumbuhan ekonomi global dalam jangka panjang.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, dampaknya tidak bisa diabaikan. Tekanan terhadap IHSG menjadi indikator nyata bagaimana gejolak global dapat merambat ke pasar domestik.
Aliran modal asing yang cenderung fluktuatif membuat stabilitas pasar semakin rentan, menuntut kewaspadaan tinggi dari para pelaku ekonomi dan pembuat kebijakan.
Pada akhirnya, kegagalan kesepakatan ini bukan hanya soal hubungan bilateral antara dua negara, tetapi mencerminkan rapuhnya tatanan ekonomi global yang sangat bergantung pada stabilitas geopolitik.
Dunia kini kembali diingatkan bahwa tanpa diplomasi yang efektif, biaya yang harus dibayar bukan hanya dalam bentuk ketegangan politik, tetapi juga tekanan ekonomi yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat global.**






.jpg)



