Diduga Napi Terancam Krisis Kesehatan di Lapas Batam: Bertahan Tanpa Obat dan Pemeriksaan, Lapas Diminta Segera Benahi Klinik dan Pengobatan


Sambar.id Batam — Di balik dinding tinggi dan jeruji besi Lapas Batam, penderitaan warga binaan diduga tidak berhenti pada hilangnya kebebasan. Di sana, sakit disebut ikut dikurung, keluhan tertahan, obat menghilang, dan tubuh-tubuh yang semestinya dirawat justru dibiarkan menunggu hingga lemah, tumbang, lalu nyaris menyerah.


Jeruji besi memang dibangun untuk membatasi langkah. Namun di Lapas Batam, jeruji itu diduga tak lagi sekadar menahan manusia keluar — ia juga disebut menahan orang sakit untuk memperoleh pertolongan, mengunci akses berobat, lalu membiarkan rasa nyeri berputar di dalam sel seperti hukuman tambahan yang tak pernah dijatuhkan pengadilan.


Di atas kertas, negara tampak hadir. Ada klinik. Ada petugas. Ada prosedur. Ada sistem. Ada kewajiban pelayanan kesehatan.


Namun di balik tembok Lapas Batam, seluruh perangkat itu diduga hanya tinggal formalitas administratif: papan nama ada, ruangan ada, alur ada, tetapi ketika tubuh warga binaan ambruk, yang justru tak kunjung datang adalah kepastian untuk ditangani.


Sejumlah warga binaan menggambarkan pola yang serupa: saat sakit datang, pertolongan disebut tidak datang secepat yang dibutuhkan. Mereka mengaku tidak langsung diperiksa, tidak segera dibawa berobat, dan tidak lekas ditangani. Yang datang justru penundaan — berjam-jam, esok hari, bahkan lusa — sampai tubuh mereka tak lagi kuat menahan sakit.


“Kalau sakit tidak bisa langsung diperiksa. Harus tunggu. Kadang besok, kadang ditunda lagi. Alasannya petugas kurang, pengawalan tidak ada, atau belum bisa keluar,” ungkap seorang warga binaan.


Pernyataan itu membuka dugaan paling telanjang dari krisis kesehatan di balik jeruji: di dalam Lapas Batam, sakit diduga tidak ditentukan oleh seberapa gawat kondisi pasien, melainkan oleh seberapa siap sistem bergerak.


Artinya, rasa sakit disebut tidak diukur dari seberapa besar ancaman terhadap nyawa, melainkan dari ada atau tidaknya petugas, tersedia atau tidaknya pengawalan, sempat atau tidaknya birokrasi memberi izin.


Di titik itu, sakit bukan lagi semata persoalan medis. Ia berubah menjadi antrean administratif yang dingin, lambat, dan tak peduli.


Di tempat yang semestinya menjadi ruang pertolongan, warga binaan justru menggambarkan situasi yang lebih menyerupai lorong tunggu penderitaan. Orang sakit disebut antre bukan berdasarkan siapa yang paling membutuhkan pertolongan, melainkan siapa yang paling mungkin diloloskan sistem.


Yang lebih mengkhawatirkan, persoalan di Lapas Batam diduga tidak berhenti pada lambatnya penanganan. Masalah yang lebih sunyi namun jauh lebih berbahaya justru disebut bersembunyi di dalam klinik itu sendiri: stok obat-obatan.


Menurut keterangan sejumlah warga binaan, persediaan obat di klinik lapas disebut kerap kosong. Stok terbatas. Obat tertentu sulit didapat. Keluhan banyak, tetapi isi lemari medis disebut nyaris tak pernah cukup.


Akibatnya, warga binaan yang datang berobat mengaku kerap hanya menerima penanganan seadanya: pil umum, penurun nyeri, obat sementara, lalu kembali ke sel dengan sakit yang belum benar-benar ditangani.(Guntur) 


Lebih baru Lebih lama