MATARAM – Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Parado Bima (IPPERMA-PARBI) Mataram menggelar dialog publik bertema *
“Masa Depan Kecamatan Parado di Tengah Ancaman Tambang: Antara Janji Kesejahteraan dan Ancaman Kerusakan” di Corner, Mataram, Minggu (24/5).
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Kaprodi Ilmu Hukum Universitas Bima Internasional Adhar, S.H., M.H., Presiden Rakyat Kaharuddin Abas, serta aktivis lingkungan Muh. Abihul Fajar, S.Hub.Int. Dialog berlangsung interaktif dan diikuti mahasiswa serta pemuda asal Parado.
Dalam pemaparannya, Adhar menjelaskan bahwa secara regulasi keberadaan tambang pada dasarnya bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. Hal itu, kata dia, sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Namun, dia menilai arah pengelolaan sumber daya alam saat ini mengalami tantangan akibat perubahan regulasi terkait kewenangan perizinan tambang yang semakin terpusat. Kondisi tersebut dinilai dapat menjauhkan kepentingan masyarakat dari pengelolaan sumber daya alam di daerah.
“Ketika kewenangan terlalu terpusat, masyarakat lokal sering kali hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri,” ujarnya dalam dialog tersebut.
Selain membahas aspek regulasi, diskusi juga menyoroti dampak lingkungan dan sosial yang berpotensi muncul akibat aktivitas pertambangan. Para narasumber menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, dalam mengawal kebijakan pembangunan agar tidak mengorbankan lingkungan dan hak masyarakat adat maupun warga lokal.
Muh. Abihul Fajar mengatakan, kesadaran kolektif masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga masa depan Parado. Menurut dia, pembangunan harus berjalan seimbang dengan upaya pelestarian lingkungan.
“Jangan sampai daerah kaya sumber daya justru meninggalkan kerusakan bagi generasi berikutnya,” katanya.
Sementara itu, Kaharuddin Abas menilai masyarakat harus aktif mengawasi setiap kebijakan terkait pengelolaan sumber daya alam. Sebab, pembangunan daerah semestinya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya menguntungkan pihak tertentu.
Dialog publik tersebut juga menjadi ruang refleksi bersama mengenai masa depan Parado di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap ancaman eksploitasi tambang. Dalam kegiatan itu, peserta diajak membangun kepedulian serta aksi nyata demi menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
IPPERMA-PARBI Mataram menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta yang telah berpartisipasi aktif menyukseskan kegiatan tersebut. Organisasi itu berharap hasil dialog dapat menjadi pijakan awal dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terkait pentingnya menjaga lingkungan dan masa depan Kecamatan Parado. (*)






.jpg)



