Kritik Mahasiswa Harus Didengar, Bukan Dipolitisasi


MATARAM – Sekretaris DPD Banteng Muda Indonesia (BMI) Nusa Tenggara Barat (NTB) Arifudin mengajak seluruh pihak untuk tidak mudah mengaitkan gerakan mahasiswa dengan kepentingan politik tertentu. Menurut dia, mahasiswa memiliki independensi, idealisme, dan kapasitas intelektual dalam menyampaikan aspirasi berdasarkan persoalan yang mereka lihat dan rasakan di tengah masyarakat.

“Mahasiswa memiliki sikap kritis dan independen. Karena itu, tidak tepat jika setiap aksi mahasiswa langsung dikaitkan dengan partai politik tertentu. Yang harus menjadi perhatian adalah substansi tuntutan dan aspirasi yang mereka sampaikan,” ujar Arifudin.

Dia menegaskan, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak konstitusional yang dijamin dalam sistem demokrasi Indonesia. Karena itu, kritik dan aspirasi yang disampaikan mahasiswa harus dipandang sebagai bagian dari kontrol sosial yang sehat terhadap jalannya pemerintahan.

Menurut Arifudin, kritik mahasiswa lahir dari kepedulian terhadap kondisi bangsa, terutama persoalan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Mahasiswa tidak turun menyampaikan aspirasi tanpa alasan. Mereka melihat berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat, mulai dari lapangan pekerjaan, daya beli yang menurun, harga kebutuhan pokok, hingga berbagai kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat. Kritik yang mereka sampaikan merupakan bentuk kepedulian agar pemerintah dapat melakukan evaluasi dan menghadirkan kebijakan yang lebih baik,” katanya.

Arifudin menilai kritik seharusnya dipandang sebagai masukan untuk perbaikan, bukan sebagai ancaman atau sesuatu yang perlu dicurigai.

“Demokrasi tidak tumbuh dari keheningan. Demokrasi tumbuh dari dialog, kritik, dan partisipasi masyarakat. Selama dilakukan secara damai dan sesuai aturan, penyampaian aspirasi adalah hal yang wajar dalam negara demokrasi,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan pesan Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang mendorong generasi muda untuk tidak takut menyampaikan pandangan terhadap berbagai persoalan bangsa.

“‘Jangan takut’ adalah pesan yang relevan bagi anak muda. Generasi muda harus berani berpikir kritis, menyampaikan gagasan, dan ikut mengawal arah pembangunan bangsa,” katanya.

Terkait tudingan yang mengaitkan gerakan mahasiswa dengan partai politik tertentu, Arifudin menilai narasi tersebut justru mengaburkan substansi persoalan yang sedang disuarakan mahasiswa.

“Jangan setiap ada kritik kepada pemerintah lalu dikaitkan dengan partai politik tertentu. Mahasiswa memiliki independensi dan bergerak berdasarkan idealisme serta kepedulian terhadap persoalan rakyat,” tegasnya.

Menurut dia, dalam sistem demokrasi, partai politik memiliki fungsi konstitusional untuk memberikan masukan, kritik, serta menjadi penyeimbang terhadap kebijakan pemerintah demi kepentingan rakyat.

“Demokrasi membutuhkan keseimbangan. Partai politik, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat sipil memiliki peran masing-masing dalam menjaga kualitas demokrasi. Semua harus ditempatkan pada porsinya,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Arifudin mengajak semua pihak untuk lebih mengedepankan dialog dan mendengarkan substansi kritik daripada saling mencurigai.

“Yang penting bukan mencari siapa yang berada di belakang sebuah gerakan, tetapi mendengarkan apa yang sedang disampaikan. Jika kritik mahasiswa berkaitan dengan ekonomi, kesejahteraan, dan kepentingan rakyat, maka yang perlu dilakukan adalah mencari solusi bersama. Karena pada akhirnya tujuan kita sama, yaitu menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat,” pungkasnya.

Lebih baru Lebih lama