Gagal Total: Ironi Slogan Politik di Pasar Tradisional Rohil

Sambar.id, RIAU |

Rokan Hilir - Pada Hari Kamis Tanggal 30 Juli 2026 Biro Redaksi Rohil Kembali Berikan Informasi Publik: ROKAN HILIR- Slogan "Perubahan" adalah komoditas paling laku saat musim pemilihan kepala daerah (Pilkada). Sayangnya, ketika mandat sudah di tangan, kata magis tersebut sering kali ikut membusuk bersama tumpukan sampah di pasar tradisional Gagal Total ( Gatot )

Masyarakat tentu berharap "perubahan" berarti tata kelola yang lebih bersih, tertib, dan modern. Namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya: perubahan dari buruk menjadi lebih buruk.

Potret Kegagalan Tata Kelola Pasar

Ada beberapa fenomena menggelitik yang menunjukkan kontrasnya jargon politik dengan realitas di pasar tradisional:

Inovasi Bau Sampah: Slogan baru sukses membawa aroma baru, yaitu tumpukan sampah yang telat diangkut berhari-hari.

Wahana Air Gratis: Setiap kali hujan deras, genangan air dan lumpur mendadak berubah menjadi fasilitas "wisata air" bagi pengunjung.

Pembiaran PKL: Kemacetan di luar pasar dikelola dengan metode pembiaran lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) yang meluber ke bahu jalan, memaksa kendaraan membelah arus secara mandiri.

E-Retribusi yang Gaib: Digitalisasi pasar yang digembar-gemborkan sering kali kalah sakti dibanding setoran tunai oknum tanpa karcis resmi.

Menanti Janji Kampanye Menjadi Nyata / Gatot

Pasar tradisional adalah urat nadi ekonomi rakyat kecil. Jika mengelola satu kawasan pasar saja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) sudah angkat tangan, lalu perubahan besar apa yang sebenarnya sedang direncanakan?

Rakyat tidak butuh perubahan warna cat gapura atau pergantian papan nama dinas. Pedagang dan pembeli hanya butuh lantai yang kering, lapak yang adil, keamanan yang terjamin, dan sampah yang diangkut tepat waktu.

Sudah saatnya Pemkab menyadari bahwa "Perubahan" adalah sebuah kerja nyata, bukan sekadar stiker yang ditempel di kaca mobil dinas. Jangan sampai masyarakat menyimpulkan bahwa satu-satunya yang berubah dari daerah ini hanyalah nama bupatinya saja.

Laporan:Tim Jurnalis ((Legiman))
Sumber:Masyarakat
Lebih baru Lebih lama