MAKASSAR, SAMBAR.ID — Panggung budaya di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (29/8/2026), berubah menjadi ruang perjumpaan kebudayaan yang mempertemukan tradisi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, hingga budaya Melayu dari sejumlah negara serumpun.
Pagelaran budaya dan kolaborasi akbar bertema Attayang Sunset “Biseang Ri Lau Mangkasara” dan Molulo dalam Satu Panggung itu menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak mengenal sekat administratif maupun batas negara.
Suasana Anjungan Pantai Losari tampak dipadati masyarakat serta gabungan organisasi masyarakat dari berbagai daerah. Sejumlah unsur yang hadir antara lain Divisi Seni Budaya Kiwal Garuda Hitam, Monta Bassi, Barisan Pemuda Makassar, hingga jajaran pengurus wilayah Sulawesi Tenggara.
Kehadiran berbagai kelompok tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari kemeriahan acara. Mereka membawa pesan bahwa seni dan budaya dapat menjadi medium pemersatu masyarakat sekaligus ruang dialog antardaerah.
Kolaborasi semakin semarak dengan keterlibatan unsur budaya Melayu dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, serta negara serumpun lainnya. Pertemuan tersebut memperluas ruang interaksi para seniman dan budayawan dari Indonesia dengan komunitas budaya Melayu di kawasan Asia Tenggara.
Budaya Bukan Sekadar Pertunjukan
Pagelaran ini menempatkan budaya bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai sarana edukasi publik.
Kekayaan sejarah, tradisi, estetika, serta perkembangan budaya Melayu—termasuk pengaruh Islam-Melayu—diperkenalkan kepada masyarakat melalui konsep seni ruang publik yang terbuka dan inklusif.
Konsep tersebut penting di tengah derasnya arus modernisasi. Kebudayaan tidak cukup hanya disimpan dalam arsip atau ditampilkan pada seremoni tertentu. Ia harus dihidupkan, dipertemukan dengan generasi muda, dan diberi ruang untuk berkembang tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Dari Pantai Losari, pesan itu menjadi semakin jelas: budaya yang hidup adalah budaya yang mampu berinteraksi dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Menjadi Penggerak Wisata Budaya
Selain memperkuat hubungan kebudayaan lintas daerah dan negara, kegiatan tersebut juga memiliki potensi strategis dalam mendorong wisata budaya (cultural tourism).
Kota Makassar dengan Pantai Losari sebagai salah satu ruang publik ikonik memiliki posisi penting untuk menjadi titik temu kebudayaan kawasan timur Indonesia dan dunia Melayu.
Ketika pertunjukan seni, tradisi lokal, sejarah, dan kreativitas masyarakat dikemas secara terbuka, ruang budaya dapat berkembang menjadi magnet wisata. Dampaknya tidak berhenti pada sektor pariwisata, tetapi berpotensi menggerakkan pelaku ekonomi kreatif, UMKM, seniman, perajin, pekerja seni, hingga pelaku usaha lokal.
Karena itu, pagelaran seperti Attayang Sunset “Biseang Ri Lau Mangkasara” dan Molulo dalam Satu Panggung seharusnya tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
Ia dapat dikembangkan menjadi platform budaya yang berkelanjutan, mempertemukan seniman, budayawan, komunitas, pemerintah, pelaku pariwisata, dan masyarakat dalam satu ekosistem kreatif.
Di tengah keberagaman Indonesia dan kuatnya ikatan sejarah masyarakat Melayu di Asia Tenggara, panggung budaya di Losari menunjukkan satu hal sederhana namun penting:
Perbedaan tradisi bukan alasan untuk terpisah. Justru melalui kebudayaan, perbedaan dapat dipertemukan menjadi kekuatan bersama.
(Mahadiah–SAMBAR.ID)











