BULUKUMBA,HERLANG SAMBAR ID — Di tengah kesibukan seorang pemimpin menjalankan agenda pemerintahan, ada satu hal yang ternyata masih sangat dinantikan masyarakat: kehadiran pemimpinnya di tengah-tengah mereka.
Suasana itu terasa di Butung, Kelurahan Bonto Kamase, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba, Kamis (13/8/2026). Warga kawasan yang dikenal cukup jauh dari pusat Kecamatan Herlang tersebut menyambut antusias kedatangan Camat Herlang Andi Nurfidyah Samad, S.Sos.
Kehadiran Camat Herlang bukan sekadar menghadiri pembukaan turnamen dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi warga, kedatangannya menjadi simbol bahwa wilayah pelosok tetap mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Ketua panitia, Hasnidar, mengungkapkan bahwa pihaknya sejak awal terus berkomunikasi dengan Camat Herlang agar dapat hadir bersama masyarakat.
«“Kami memang meminta waktu Pak Camat. Hari ini beliau siap hadir, meskipun jadwalnya cukup padat. Kami tidak berhenti menghubungi beliau dan Alhamdulillah beliau akhirnya hadir,” ujar Hasnidar.»
Bagi masyarakat Butung, sosok Andi Nurfidyah bukanlah figur yang asing. Sebelum menjabat sebagai camat, ia pernah bertugas sebagai sekretaris lurah dan cukup sering berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat.
Hubungan tersebut meninggalkan kesan tersendiri. Warga mengenang bagaimana Andi Nurfidyah dahulu hadir mendengarkan berbagai keluhan masyarakat, termasuk persoalan sosial yang membutuhkan penyelesaian secara adil agar tidak ada pihak yang merasa dikorbankan.
“Beliau tidak membeda-bedakan warga dan mudah diajak berkomunikasi,” demikian kesan yang disampaikan masyarakat.
Meriahkan Kemerdekaan dari Wilayah Terjauh
Pembukaan turnamen tersebut turut dihadiri Ketua TP PKK Kec Herlang, Lingkungan Butung, para tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, tokoh nelayan, serta Ketua LPMK.
Dalam sambutannya, Andi Nurfidyah mengajak masyarakat memahami kemerdekaan bukan hanya sebagai perayaan tahunan, tetapi sebagai kesempatan untuk terus memperbaiki kehidupan.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh isu yang belum jelas kebenarannya maupun provokasi yang dapat memecah persatuan.
Menurutnya, kemerdekaan harus diwujudkan melalui kesempatan memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, serta kehidupan sosial dan ekonomi yang semakin baik.
“Sekarang masyarakat sudah tidak lagi hidup dalam penjajahan. Kita bisa menikmati pendidikan, pelayanan kesehatan dan berbagai pembangunan. Karena itu, mari kita jaga persatuan dan jangan mudah terpengaruh isu yang tidak benar,” pesannya.
Tanggul Ombak hingga Anggaran hampir satu milyar
Andi Nurfidyah juga menyampaikan sejumlah bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat Butung.
Salah satunya pembangunan tanggul penahan ombak yang dinilai penting bagi kawasan masyarakat pesisir.
Ia juga menyebut perhatian pemerintah terhadap peningkatan pelayanan kesehatan dan berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Menurutnya, perkembangan ekonomi masyarakat juga mulai terlihat. Salah satu indikatornya adalah semakin baiknya kehidupan keagamaan dan pembangunan fasilitas keagamaan di tengah masyarakat.
“Kalau kita melihat masjid yang semakin megah, itu juga menjadi salah satu gambaran bahwa ekonomi masyarakat sudah jauh lebih baik dibandingkan sekitar 15 tahun lalu,” ungkapnya.
Bahkan, pemerintah daerah disebut tengah menyiapkan perhatian anggaran sekitar Rp200 juta untuk kawasan tersebut. Rencana itu, kata Andi Nurfidyah, telah melalui proses survei oleh konsultan sebagai bagian dari tahapan perencanaan pembangunan.
Bagi warga Butung, angka tersebut bukan sekadar nilai anggaran. Di baliknya terdapat harapan agar pembangunan benar-benar menyentuh masyarakat yang berada jauh dari pusat pemerintahan.
Pemimpin dan Warga, Dua Arah yang Harus Tetap Terhubung
Antusiasme warga menyambut kedatangan Camat Herlang memperlihatkan bahwa jarak geografis tidak selalu menjadi penghalang hubungan antara pemimpin dan masyarakat.
Justru dari wilayah yang jauh dari pusat kecamatan, harapan terhadap kehadiran pemerintah terasa semakin kuat.
Turnamen kemerdekaan akhirnya bukan sekadar pertandingan olahraga. Ia menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat dan pemerintah—tempat warga menyampaikan rasa, harapan, sekaligus melihat langsung bahwa wilayah mereka tetap diperhatikan.
Dari Butung, pesan itu sederhana: masyarakat tidak[ hanya membutuhkan pembangunan, tetapi juga membutuhkan pemimpin yang mau datang, mendengar dan hadir bersama mereka.
Lp.AfsAs77M Red









