Sambar.id Pangkalpinang || Kegiatan operasional PIP didalam WIUP PT.Timah dibeberapa Wilayah produksi Laut Bangka mendapat perhatian serius dari ketua AMAK Babel, Hadi Purbaya.
Pada saat dihubungi awak media Hadi menyampaikan kinerja PT.Timah terkait Kuota Ponton Isap Produksi atau PIP dibeberapa tempat tidak lagi sesuai kuota .
Informasi SPK PIP puluhan unit ponton diberikan kepada oknum anggota dewan , oknum pejabat daerah ,aktifis lingkungan telah merebak dimasyarakat dan menjadi perhatian Publik.
Kami mempertanyakan hal ini kepada Dirut PT.Timah bagaimana pengawasan lapangan oleh pengawas tambang serta BKO yang ada.
Setahu saya kuota PIP hanya 360 unit yang memiliki SILO atau surat izin layak operasi diPT.Timah.
Namun kenyataan nya ratusan ponton berada di satu wilayah produksi seperti laut Sampur (bangka tengah),laut Cupat(bangka barat) bahkan sebelumnya di laut Air Kantung (Bangka induk) beroperasi ratusan unit PIP.
Modusnya beberapa CV mitra timah mendapatkan jumlah ponton diluar SILO dengan alasan ponton binaan.
Banyak oknum pejabat daerah bahkan,oknum wakil rakyat, oknum Aktifis Lingkungan dan oknum wartawan memiliki CV yang ber SPK PT Timah memiliki puluhan unit ponton .
Belum lagi terkait penggunaan BBM yang secara jelas termuat di Surat Perjanjian (SP) kemitraan PT.Timah , harus menggunakan BBM Industri ,pada kenyataanya tidak diawasi legalitasnya.
Realitasnya setiap unit ponton menyiapkan sendiri BBM jenis solar yang digunakan.
"Apakah legal hasil timahnya ,jika sarananya saja seperti BBM terutama jenis solar tidak resmi atau menggunakan BBM subsidi.
Apakah pengawasan terkait kedua hal diatas dilakukan secara ketat oleh Pihak PT Timah.
"Kami juga meminta kepada Bapak Kapolda Babel untuk secara tegas menindak hal tersebut,karena mitra atau CV memanfaatkan celah tersebut untuk meraup keuntungan besar namun tidak mengindahkan aturan kerja , Aspek K3 dan dampak Lingkungan dan tentunya masuk kategori ilegal dan pidana" ungkap Hadi.
Hal ini tentu saja berimbas kepada aspek sosial.ekonomi masyarakat yang mana saat ini secara kasat mata dibeberapa SPBU terjadi antrian panjang yang disebabkan giat penambangan timah yang merupakan urat nadi ekonomi di babel,memanfaatkan BBM bersubsidi Solar dan Pertalyte guna menekan biaya operasional penambang.
Sampai saat ini harga ditingkat pengecer masih tinggi untuk BBM jenis pertalyt (14.000/ltr) dan Solar
(*)










