Politeknik Indonesia Dorong UMKM Kue Tradisional Gowa Naik Kelas Melalui Digitalisasi Berbasis AI

GOWA, SULAWESI SELATAN  SAMBAR ID, 24 /07/ 26— Upaya mendorong transformasi usaha mikro berbasis teknologi terus dilakukan kalangan perguruan tinggi. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Politeknik Indonesia melaksanakan program bertajuk “Pendampingan Digitalisasi Usaha Berbasis AI, Penguatan Produksi, dan Literasi Keuangan Kelompok Industri Rumahan Kue Tradisional di Kabupaten Gowa” sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan daya saing pelaku UMKM di era digital.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Kabupaten Gowa dengan menggandeng Kelompok Industri Rumahan Kue Tradisional yang diketuai Hj. Nurbiah Dg. Caya sebagai mitra utama.

Kelompok usaha tersebut telah lama memproduksi beragam kuliner tradisional khas Bugis–Makassar, seperti putu kacang, ote'ote're’, serta berbagai jenis kue tradisional lainnya yang diproduksi di kawasan Jalan Karaeng Loe Sero, Kabupaten Gowa.

Program ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai melalui Hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) serta Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (RISBANG), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026.

Tim pengabdian dipimpin oleh Mochammad Fadhil Abdullah selaku ketua, dengan anggota Wahyuni dan Yogi Hady Afrizal. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan mahasiswa Politeknik Indonesia yang berperan sebagai pendamping lapangan sekaligus membantu proses dokumentasi dan implementasi program di lokasi mitra.

Ketua Tim Pengabdian, Mochammad Fadhil Abdullah, menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas produksi, tetapi juga mendorong pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital agar mampu meningkatkan nilai tambah produk serta memperluas akses pasar.

“UMKM tidak cukup hanya menghasilkan produk yang berkualitas. Di era digital, pelaku usaha juga harus memiliki identitas merek yang kuat, pencatatan keuangan yang baik, serta kemampuan memanfaatkan teknologi sebagai sarana pemasaran. Karena itu, kami menghadirkan pendampingan yang bersifat menyeluruh, mulai dari produksi, digitalisasi usaha hingga literasi keuangan,” ujarnya.

Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap agar proses pendampingan berjalan efektif dan berkelanjutan. Tahap pertama diawali dengan sosialisasi program yang bertujuan membangun pemahaman bersama, menyamakan persepsi, serta memperkuat komitmen antara tim pelaksana dan mitra terhadap seluruh rangkaian kegiatan.

Tahap berikutnya berupa pelatihan peningkatan kapasitas yang difokuskan pada manajemen pengelolaan usaha, pemanfaatan teknologi digital, hingga pengelolaan keuangan sederhana. Selanjutnya, tim melaksanakan tahap penerapan teknologi dan inovasi melalui pendampingan langsung kepada mitra dalam mengimplementasikan hasil pelatihan pada aktivitas usaha sehari-hari.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam program ini adalah pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu proses branding usaha. Melalui teknologi AI, mitra memperoleh pendampingan dalam pembuatan logo usaha dan desain stiker produk yang sebelumnya belum dimiliki.

Kehadiran identitas visual tersebut diharapkan mampu meningkatkan citra produk sehingga lebih kompetitif di pasar modern tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang melekat pada kuliner tradisional.

Selain itu, tim juga membantu mitra menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi sederhana sebagai pedoman dalam proses pembuatan kue tradisional. SOP tersebut menjadi acuan untuk menjaga kualitas, kebersihan, konsistensi rasa, ukuran produk, serta efisiensi proses produksi.

Dengan adanya standar tersebut, produk yang dihasilkan diharapkan lebih seragam dan memiliki mutu yang semakin baik, sekaligus menjadi langkah penting bagi kelompok usaha untuk terus berkembang.

Pada aspek pengelolaan usaha, mitra memperoleh pendampingan penggunaan aplikasi pencatatan keuangan digital sederhana untuk mencatat transaksi harian, pemasukan, pengeluaran, hingga arus kas usaha.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola keuangan secara lebih tertib sehingga memudahkan proses evaluasi maupun pengembangan usaha di masa mendatang.

Tidak hanya itu, program juga memperkuat kapasitas pemasaran digital melalui pembuatan dan aktivasi akun media sosial usaha. Sebelum program berlangsung, kelompok usaha belum memiliki media promosi digital yang dikelola secara khusus.

Setelah dilakukan pendampingan, mitra mulai memanfaatkan media sosial sebagai etalase digital untuk memperkenalkan produk, membangun komunikasi dengan pelanggan, serta memperluas jangkauan pemasaran hingga di luar wilayah Kabupaten Gowa.

Ketua Kelompok Industri Rumahan Kue Tradisional, Hj. Nurbiah Dg. Caya, mengapresiasi program yang dilaksanakan Politeknik Indonesia. Menurutnya, pendampingan tersebut memberikan pengetahuan baru yang sangat dibutuhkan pelaku usaha, terutama dalam menghadapi perubahan pola pemasaran dan perkembangan teknologi.

Ia berharap pendampingan tersebut dapat memberikan dampak jangka panjang bagi keberlanjutan usaha kue tradisional yang selama ini menjadi sumber penghidupan kelompoknya.

Program PKM Politeknik Indonesia ini menjadi contoh kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelaku UMKM dalam menjaga keberlanjutan produk tradisional sekaligus mempersiapkan usaha kecil agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Melalui perpaduan antara kearifan lokal, penguatan kualitas produksi, literasi keuangan, pemasaran digital, dan pemanfaatan teknologi AI, kue-kue tradisional khas Gowa diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan kuliner, tetapi juga mampu naik kelas, memperluas pasar, dan memiliki daya saing yang lebih kuat di tengah ekonomi digital(As77M)

Editor: Dg. Pagiling
Sambar.id

Lebih baru Lebih lama