Tim Pengabdi UNM Gelar Pengabdian Terpadu di SMA Nasional Makassar, Dorong Inovasi Pembelajaran dan Budaya Berkelanjutan


SAMBAR.ID, MAKASSAR — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM) dari Jurusan Teknologi Pertanian melaksanakan kegiatan pengabdian terpadu di SMA Nasional Makassar, 3 Juni 2026.


Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menjadi ruang transfer pengetahuan, teknologi, dan keterampilan dari perguruan tinggi kepada lingkungan pendidikan.


Program dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yakni sosialisasi, praktikum dan evaluasi, yang dilanjutkan dengan pembinaan keberlanjutan. Pola tersebut dirancang agar pengetahuan yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.


Dalam kegiatan ini, tim pengabdi menghadirkan empat program utama yang menyentuh aspek lingkungan, karakter, inovasi pembelajaran, hingga gaya hidup berkelanjutan.


Pengolahan Sampah Sistem Takakura


Program pertama memperkenalkan teknologi pengolahan sampah dengan sistem Takakura sebagai solusi sederhana dan ekonomis untuk mengurangi persoalan sampah di lingkungan sekolah.


Teknologi tersebut dinilai mudah diterapkan karena tidak membutuhkan input besar, namun dapat memberikan manfaat nyata dalam pengelolaan sampah organik.


“Teknologi ini mudah diterapkan karena tidak memerlukan input yang tinggi,” ujar Muhlis, ketua tim pengabdi pengolahan sampah sistem Takakura.


Menurutnya, pengenalan teknologi tepat guna menjadi penting agar sekolah memiliki alternatif pengelolaan sampah yang sederhana, mudah dipahami, sekaligus dapat diterapkan secara mandiri.


Pembinaan Akhlak Remaja melalui Literasi Al-Qur’an


Program kedua mengangkat tema Pembinaan Akhlak Remaja melalui Literasi Al-Qur’an dalam Pembelajaran di SMA Nasional Makassar.


Program ini diarahkan untuk memperkuat pendidikan karakter dan akhlak siswa agar perkembangan keilmuan berjalan seimbang dengan pembentukan moral generasi muda.


Ketua tim, Nurmila, menegaskan bahwa pembiasaan nilai-nilai Qur’ani sejak usia sekolah dapat menjadi fondasi pembentukan karakter siswa dalam kehidupan keluarga, sekolah maupun masyarakat.


“Dengan membiasakan anak remaja menanamkan nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupannya, akan membentuk insan yang berakhlak mulia, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat,” tuturnya.


Program tersebut juga diharapkan menjadi ruang bagi para guru untuk memperkuat peran mereka dalam membangun karakter dan akhlak peserta didik.


Fun Learning, Alat Peraga Sederhana dan Kahoot


Program berikutnya berfokus pada pelatihan metode Fun Learning berbasis alat peraga sederhana dan kuis interaktif Kahoot untuk meningkatkan minat belajar siswa.


Program ini tidak sekadar memperkenalkan teknologi digital, tetapi mendorong guru menggabungkan alat peraga sederhana dengan media evaluasi interaktif.


Pada pembelajaran fisika, alat peraga digunakan untuk membantu guru mengkonkretkan konsep dan mendemonstrasikan fenomena secara langsung. Sementara Kahoot digunakan sebagai sarana evaluasi pembelajaran melalui kuis yang interaktif, kompetitif, dan menyenangkan.


Menurut Iriany, transfer pengetahuan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran inovatif.


Guru diharapkan mampu memanfaatkan bahan sederhana sebagai media pembelajaran sekaligus menggunakan teknologi digital sebagai sarana evaluasi.


Dampaknya diharapkan dirasakan langsung oleh siswa melalui meningkatnya keterlibatan dalam proses belajar, rasa ingin tahu, serta pengalaman belajar yang lebih konkret dan menyenangkan.


Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan Berbasis Gaya Hidup Berkelanjutan


Program keempat mengangkat tema Pelatihan Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan Berbasis Gaya Hidup Berkelanjutan pada Program P5 di SMA Nasional Makassar.


Program ini menitikberatkan pada penguatan budaya memilah sampah sejak dari sumbernya.


Ketua tim, Mohamad Ikbal Riski A. Danial, menjelaskan bahwa sekolah perlu membangun sistem manajemen pemilahan sampah yang terintegrasi, antara lain melalui penyediaan tempat sampah untuk kategori organik, anorganik dan residu.


Selain infrastruktur, diperlukan pula pengawasan melalui keterlibatan siswa sebagai “Duta Hijau” di setiap kelas.


Konsep tersebut diperkuat melalui program seperti “Kelas Lestari”, pengurangan plastik sekali pakai, serta pembiasaan siswa membawa botol minum dan wadah makan sendiri.


Lebih jauh, program P5 diarahkan agar tidak berhenti pada pembuatan produk kerajinan, tetapi berkembang menjadi sistem pengolahan sampah mandiri di lingkungan sekolah.


Sampah organik dari kantin dapat diolah menjadi kompos untuk taman sekolah, sedangkan sampah anorganik dapat ditimbang dan dikonversi menjadi nilai ekonomi melalui Bank Sampah Unit Kelas.


“Integrasi ini memastikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, khususnya akhlak kepada alam dan gotong royong, terinternalisasi melalui pengalaman praktis yang memberikan dampak ekologis dan ekonomis secara nyata,” jelasnya.


Pengabdian Tidak Berhenti pada Seremonial


Kegiatan tersebut dihadiri tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Teknik UNM, pengurus Yayasan Nasional Makassar, kepala sekolah, guru, staf serta perwakilan siswa SMA Nasional Makassar.


Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian perguruan tinggi tidak semestinya berhenti pada penyampaian materi. Tantangan utamanya justru memastikan pengetahuan dan teknologi yang diberikan mampu diterapkan, dievaluasi, dan dikembangkan secara berkelanjutan.


Tim pengabdian UNM menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Prof. Dr. Farida Patittingi, S.H., M.Hum., selaku Plt. Rektor Universitas Negeri Makassar, Ketua Yayasan Nasional Makassar, Kepala SMA Nasional Makassar, para guru, staf serta seluruh siswa yang mendukung pelaksanaan kegiatan.


Melalui program tersebut, UNM mendorong terbentuknya lingkungan sekolah yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi pembelajaran. (*)

Lebih baru Lebih lama