SAMBAR.ID | BANDUNG – Dunia pencak silat tradisional di Jawa Barat dan Banten kembali menunjukkan geliat positif. Ketua Dewan Pengurus Komunitas Pencak Silat Seni Tradisi Buhun Jawa Barat dan Banten, Raden Ariawanda Suliwa, S.H., memberikan apresiasi tinggi kepada Piar Pratama, S.H., selaku Raden Anom Pager Kencana ke-V.
Apresiasi tersebut disematkan menyusul langkah progresif Piar Pratama dalam mengembangkan aliran Kembang Kintan di Kabupaten Bandung. Di bawah kepemimpinannya, seni bela diri warisan leluhur ini dinilai semakin hidup, berdaya saing, dan diterima secara luas oleh masyarakat.
"Kami sangat mengapresiasi dedikasi Raden Anom Pager Kencana kelima, Piar Pratama, S.H. Beliau tidak hanya sekadar melestarikan, tetapi juga mampu membawa Kembang Kintan pencak silat Kabupaten Bandung menuju arah yang lebih gemilang dan terorganisir," ungkap Raden Wawan Suliwa, S.H., sapaan akrab Raden Ariawanda Suliwa.
Sinergi Nilai Klasik dan Semangat Muda
Sebagai tokoh sentral dalam komunitas tersebut, Raden Wawan menilai bahwa regenerasi dan kepemimpinan yang kuat menjadi kunci menjaga marwah pencak silat buhun di era modern. Peran Piar Pratama sebagai pewaris tradisi dianggap sukses menjembatani nilai-nilai klasik pencak silat buhun dengan semangat kepemudaan saat ini.
Terdapat tiga pilar utama yang menjadi fokus pengembangan di bawah kepemimpinan Raden Anom V:
1. Pelestarian Budaya: Mengangkat kembali khazanah jurus dan filosofi tradisi buhun agar tetap otentik dan tidak tergerus zaman.
2. Pengembangan Wilayah: Memperkuat basis pencak silat tradisional, khususnya di Kabupaten Bandung, melalui kolaborasi lintas komunitas.
3. Pembinaan Generasi Muda: Menjadikan pencak silat sebagai wadah pembentukan karakter yang berintegritas serta menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya bangsa.
Harapan ke Depan
Dengan sinergi yang terjalin antara para tokoh sepuh pencak silat buhun di Jawa Barat-Banten dan kepemimpinan energik dari Piar Pratama, diharapkan seni tradisi Kembang Kintan Kabupaten Bandung dapat terus berkibar di kancah regional maupun nasional.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa pencak silat seni tradisi buhun tidak akan lekang oleh waktu, selama estafet kepemimpinannya dipegang oleh figur-figur yang berdedikasi tinggi terhadap pelestarian budaya leluhur.
(Hans)











