CAPTION: Ketua KASTANA Sulawesi Tengah, Muchlis Latif Susapalu, S.Pd.I., M.Pd/F-Doc Pribadi.
Dinilai sebagai Kritik Satire terhadap Elite Politik dan Wakil Rakyat Asal Sulteng
SAMBAR.ID, Palu, Sulteng – Komunitas Akal Sehat Tanggap Bencana (KASTANA) Sulawesi Tengah menyatakan dukungan terhadap aksi pengumpulan koin Rp1.000 untuk Dana Bagi Hasil (DBH).
Gerakan tersebut dinilai sebagai salah satu bentuk ekspresi dan kritik masyarakat terhadap kinerja para wakil rakyat serta elite politik dalam memperjuangkan kepentingan fiskal daerah.
Ketua KASTANA Sulawesi Tengah, Muchlis Latif Susapalu, S.Pd.I., M.Pd., mengatakan, aksi pengumpulan koin Rp1.000 tidak semata-mata berkaitan dengan nominal uang yang dikumpulkan, tetapi memiliki pesan simbolik mengenai kepedulian masyarakat terhadap persoalan DBH.
Menurut Muchlis, gerakan tersebut mencerminkan keresahan sekaligus aspirasi masyarakat Sulawesi Tengah agar tidak hanya menjadi penonton dalam persoalan yang berkaitan dengan kepentingan fiskal dan masa depan daerah.
“KASTANA Sulawesi Tengah sangat mendukung gerakan ini. Koin Rp1.000 mungkin nilainya kecil, tetapi ketika dikumpulkan bersama-sama, pesan kritiknya menjadi besar. Ini merupakan bentuk ekspresi masyarakat yang harus kita sikapi secara serius,” ujar Muchlis.
Ia menegaskan, persoalan DBH berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas sehingga perlu mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat di Sulawesi Tengah.
“Ini bukan hanya urusan kelompok tertentu. Persoalan yang berkaitan dengan hak fiskal daerah adalah kepentingan seluruh masyarakat Sulawesi Tengah. Karena itu, semua lapisan masyarakat wajib ikut memberikan perhatian dan menyampaikan aspirasi secara damai, kritis, dan bermartabat,” tegasnya.
Dinilai sebagai Kritik Satire
Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Himpunan Pemuda Alkhairaat (PP HPA), Ashar Yahya, menilai aksi pengumpulan koin Rp1.000 merupakan bentuk kritik satire yang ditujukan kepada elite politik dan wakil rakyat asal Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Tengah di DPR RI serta empat anggota DPD RI utusan Sulawesi Tengah.
Menurut Ashar, gerakan tersebut menjadi simbol kekecewaan sebagian masyarakat terhadap wakil-wakil daerah di tingkat pusat yang dinilai belum maksimal memperjuangkan kepentingan fiskal Sulawesi Tengah.
“Ini adalah bentuk kritik satire yang tajam kepada para elite politik dan wakil rakyat asal Dapil Sulawesi Tengah di DPR RI maupun empat anggota DPD RI utusan Sulawesi Tengah yang dinilai gagal memperjuangkan hak fiskal daerah,” kata Ashar Yahya.
Ia menilai penggunaan pecahan Rp1.000 dalam aksi tersebut memiliki pesan simbolik. Pengumpulan uang dengan nominal kecil disebut menjadi bagian dari cara masyarakat menyampaikan sindiran sekaligus kritik terhadap persoalan perjuangan kepentingan daerah di tingkat nasional.
KASTANA Sulawesi Tengah menilai kritik dan penyampaian aspirasi merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun, setiap gerakan masyarakat diharapkan tetap dilakukan secara damai, tertib, bertanggung jawab, serta mengedepankan kepentingan masyarakat Sulawesi Tengah.
Muchlis mengatakan, KASTANA akan terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan daerah.
“Jangan sampai masyarakat hanya diam ketika kepentingan daerah dipertaruhkan. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Yang terpenting, mari kita sampaikan dengan cara yang santun, terbuka, dan bertanggung jawab. Gerakan koin Rp1.000 ini harus kita lihat sebagai pesan moral masyarakat kepada para pemegang amanah,” pungkasnya.
KASTANA Sulawesi Tengah menegaskan dukungannya terhadap penyampaian aspirasi masyarakat melalui gerakan tersebut, dengan tetap mengedepankan cara-cara yang damai dan konstruktif dalam mengawal kepentingan daerah.**/Red.












