Sambar.id, Makassar — Demokrasi di Indonesia kembali menemukan bentuk baru yang lebih matang, lebih ramah, dan lebih beradab.
Bukan di gedung parlemen, bukan di forum-forum elite, melainkan di level paling dasar: Rukun Tetangga (RT). Kota Makassar kini menjadi salah satu contoh bagaimana demokrasi digital mampu mengubah kultur politik masyarakat hingga ke ruang terkecil kehidupan sosial.
Di era 5.0, ketika teknologi informasi menjadi denyut nadi aktivitas manusia, proses politik tidak lagi terkurung dalam rapat-rapat fisik atau bale-bale pertemuan.
Ia mengalir deras melalui platform digital, tempat opini publik terbentuk, strategi digelar, dan aspirasi warga dipertautkan.
Mobilisasi politik hingga komunikasi antarwarga kini berlangsung melalui grup WhatsApp, Facebook, TikTok, dan Instagram—menghadirkan ruang demokrasi baru yang jauh lebih terbuka.
“Demokrasi digital itu bukan sekadar tren. Ia adalah transformasi, dan kita di tingkat RT pun harus ikut berubah,” ujar Ilham Kadir, calon Ketua RT 004/RW 003, Kelurahan Karuwisi Utara, Kecamatan Panakkukang, saat ditemui di sela-sela sosialisasi programnya.
Ilham melihat perkembangan internet sebagai energi besar yang turut membentuk kedewasaan politik warga. Pernyataannya bukan tanpa dasar.
Laporan Data Reportal 2024 mencatat bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 212,9 juta orang, atau 77 persen dari populasi. Sementara itu, pengguna media sosial menembus 167 juta, setara 60,4 persen penduduk. Facebook tetap menjadi kanal utama, disusul TikTok dan Instagram—tiga platform yang kini menjadi arena pertarungan gagasan politik, termasuk di tingkat RT.
Demokrasi Digital, Demokrasi yang Lebih Dewasa
Menurut Ilham, kehadiran teknologi justru membuka ruang kedewasaan politik.
“Kalau kita dewasa, maka perbedaan tidak memecah. Justru memperkaya demokrasi. Lawan politik bukan musuh, tapi kawan demokrasi yang punya tujuan sama untuk kebaikan lingkungan,” tegasnya.
Kedewasaan itu tampak dari cara warga berdiskusi di ruang digital. Kritik disampaikan dengan santun, program dibahas dengan objektif, dan perdebatan berlangsung tanpa menodai hubungan sosial sehari-hari.
Di lingkungan RT yang biasanya rawan konflik kecil, kedewasaan digital justru menghadirkan keteduhan, harmoni, dan romantisme politik yang jarang muncul dalam skala yang lebih besar.
Era 5.0: Warga Kian Sadar, Politik Kian Cerdas
Perkembangan teknologi membuat warga kini lebih terinformasi, lebih kritis, dan lebih berani menyuarakan harapan mereka.
Ruang-ruang publik virtual menjadi tempat warga menilai calon, mengawasi proses, dan mengoreksi gagasan.
Di titik ini, politik kembali pada esensinya: seni merawat kepercayaan dan membangun masa depan bersama.
Makassar, melalui geliat demokrasi di tingkat RT, memperlihatkan bahwa masa depan politik Indonesia bisa dimulai dari hal paling sederhana:
kedewasaan, kesadaran digital, dan semangat menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Demokrasi tak lagi milik elite.
Demokrasi kini hidup, tumbuh, dan berkembang di gang-gang kecil, di beranda rumah warga, dan di layar ponsel mereka—tempat politik menemukan kembali keindahannya. (Md)







.jpg)
