Podcast "RESONARA" Kupas Tuntas Komunikasi Transendental dan Kearifan Lokal Kaili

PODCAST "RESONARA"resmi meluncurkan episode perdana menghadirkan pembahasan mendalam mengenai komunikasi transendental serta hubungan manusia dengan leluhur dan alam semesta/F- Hms LS ADI.


SAMBAR.ID, Palu, Sulteng - Podcast "RESONARA"resmi meluncurkan episode perdana dengan menghadirkan pembahasan mendalam mengenai komunikasi transendental serta hubungan manusia dengan leluhur dan alam semesta. 


Diskusi yang berlangsung pada Rabu (21/01/2026) ini menghadirkan akademisi UIN Datokarama Palu Taufik Lasenggo, S.Sos., M.Si. sebagai narasumber utama. Dalam sesi tersebut, Taufik mengulas makna filosofis di balik nama "Resonara" melalui pendekatan semiotika komunikasi. 


Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa Kaili, Resonara berasal dari kata Reso yang berarti kerja keras hingga kelelahan, dan Nanara yang berarti hasil kerja yang indah serta presisi.


"Resonara adalah simbol dari proses kerja keras yang melelahkan namun mampu melahirkan keindahan," ujar Taufik.


Dimensi Metafisik dan Ritual Budaya


Topik utama diskusi berfokus pada komunikasi transendental, yakni bentuk komunikasi non-verbal yang melampaui logika rasional melalui simbol dan ritual. Taufik mencontohkan praktik ibadah seperti zikir dan salat sebagai bentuk komunikasi manusia dengan dimensi metafisik.


Dalam konteks lokal Sulawesi Tengah, ia menekankan pentingnya menjaga koneksi dengan leluhur melalui doa dan tawasul. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan sejarah dan asal-usul, sebagaimana pepatah "kacang jangan lupa kulitnya."


Pesan Keselarasan dengan Semesta


Terkait ritual adat seperti Novunja dan Nobalia, Taufik mengajak publik untuk tidak terburu-buru menghakimi praktik budaya tersebut secara dangkal. Ia menegaskan bahwa di balik ritual adat terdapat resonansi energi dan makna kemuliaan yang selaras dengan alam.


"Jangan-jangan di ritual-ritual ada kemuliaan yang harus diungkap," ungkapnya sembari menganalogikan hal tersebut dengan kisah Nabi Musa dan Nabi Khaidir.


Menutup diskusi, Ia menekankan pentingnya psikologi kesadaran. Ia mengajak masyarakat untuk meneladani kearifan leluhur suku Kaili yang senantiasa menjaga adab terhadap alam, seperti tradisi mengucapkan "tabe" (permisi) bahkan di tempat sunyi.  Menurutnya, keselarasan dengan hukum alam akan membawa manusia menuju pencerahan.***


Lebih baru Lebih lama