Wabup Bulukumba Hadiri Peringatan Adat Kekaraengan Lange-lange, Merawat Spiritualitas dan Jejak Sejarah Leluhur


Sambar.id Bulukumba – Suasana khidmat dan penuh nuansa religius menyelimuti Balla Lompoa Tanuntung, Jalan Pahlawan No. 10, Sabtu pagi (31/1/2026).


 Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang digelar Adat KeKaraengan Lange-Lange berlangsung hangat dan sarat makna, memadukan nilai keagamaan dengan tradisi adat yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.


Momentum ini menjadi ruang silaturahmi antara pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat dalam satu kebersamaan.


Kegiatan tersebut dihadiri langsung Wakil Bupati Bulukumba, H. Andi Edy Manaf, bersama sejumlah tokoh daerah lainnya, di antaranya Camat Herlang, Andi Fidya Samad, S.Sos, serta ketua palasara sulselbar Haji Andi Rusdianto Talib Kehadiran para tokoh ini semakin mempererat hubungan emosional antara unsur pemerintahan dan keluarga besar adat.


Siraman rohani disampaikan Ustaz Tahir dari Bantaeng, yang mengajak jamaah meneladani hikmah perjalanan spiritual Rasulullah SAW sebagai penguat iman, akhlak, serta persatuan umat.


Peserta yang hadir bukan hanya jajaran pengurus adat, tetapi juga keluarga besar KeKaraengan Lange-Lange dan kerabat dari berbagai daerah seperti Bulukumba, Bone, Sinjai, hingga Gowa. Kebersamaan lintas generasi tersebut mencerminkan kuatnya ikatan sosial dan budaya masyarakat Tanuntung.


Jejak Sejarah KeKaraengan: Adat, Darah Bangsawan, dan Pengabdian di balik pelaksanaan Isra Miraj, KeKaraengan Lange-Lange menyimpan jejak sejarah panjang yang tak terpisahkan dari identitas masyarakat setempat.


Nama Andi Mappiwali, Karaeng Bali Patta Lolo, dikenal sebagai figur sentral dalam struktur adat. Sosok ini tidak hanya dihormati sebagai pemangku gelar, tetapi juga sebagai tokoh pengabdian yang menjembatani tradisi leluhur dengan tata pemerintahan modern.


Dari garis keturunannya lahir generasi yang melanjutkan peran sosial dan birokrasi. Secara genealogis, Camat Herlang, Andi Fidya Samad, S.Sos, merupakan cucu langsung Andi Mappiwali, Karaeng Bali Patta Lolo. 


Dalam catatan sejarah keluarga, garis ini bahkan melahirkan camat pertama pada masa sistem distrik yang kemudian menjabat sebagai camat, menandai kesinambungan pengabdian adat dalam pemerintahan formal.


Ikatan sejarah KeKaraengan juga terhubung erat dengan Kerajaan Gowa. Ketua Harian, Karaeng Andi Hikmawati Andi Mappiwali, Karaeng Bali Patta Lolo, yang juga merupakan Istri Raja Gowa ke-XXXVIII, menjadi simbol hidup hubungan genealogis antara Tanuntung, Bulukumba, dan trah bangsawan Gowa.


Sementara itu, kepemimpinan lembaga adat saat ini dipegang Ketua Umum, Karaeng Andi Agung Andi Mappiwali, yang terus merawat harmoni antara adat, agama, dan kehidupan sosial masyarakat.


Bagi warga Tanuntung, KeKaraengan bukan sekadar simbol kebangsawanan. Ia adalah penjaga memori kolektif—tempat nilai, etika, dan warisan budaya diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, setiap momentum keagamaan seperti Isra Miraj bukan hanya peringatan spiritual, tetapi juga penguat identitas budaya.


Di sinilah adat, agama, dan sejarah berjalan berdampingan—menjaga masa lalu, sekaligus menuntun masa depan.

Lebih baru Lebih lama