Duka Diujung Karang: Pemuda 27 Tahun Tewas Terseret Ombak di Pantai Tamamelon Selayar


Sambar.id KEPULAUAN SELAYAR – Suara ombak yang biasanya menjadi irama penenang bagi para pemancing, Selasa (3/3/2026) sore, justru berubah menjadi saksi bisu sebuah tragedi memilukan di Pantai Tamamelon, Desa Patikarya, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar.


Seorang pemuda bernama Sahrial (27), warga Dusun Palemba, Desa Kalepadang, Kecamatan Bontoharu, harus meregang nyawa setelah terjatuh dan terseret ombak saat memancing di pinggir laut. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan warga kampung halamannya.


Datang dengan Harapan, Pulang Tak Bernyawa


Sekitar pukul 14.00 Wita, Sahrial bersama rekannya, Suardi (26), tiba di Pantai Tamamelon. Siang itu cuaca tampak biasa saja. Mereka datang dengan niat sederhana: memancing, berharap membawa pulang hasil laut untuk keluarga.


Keduanya berdiri tak berjauhan, hanya sekitar tujuh meter. Ombak sesekali menghantam batu karang, namun aktivitas memancing tetap berlangsung. Hingga sekitar pukul 14.30 Wita, momen yang tak pernah dibayangkan terjadi.


Saat Suardi berbalik arah, ia tak lagi melihat sosok sahabatnya di tempat semula. Jantungnya berdegup kencang. Setelah dicari dengan pandangan cemas, ia melihat Sahrial sudah berada di dalam air, berusaha berenang melawan ombak.


“Korban sudah di air dan berusaha menyelamatkan diri,” tutur saksi dengan suara bergetar.


Upaya Penyelamatan yang Terhalang Ombak


Suardi berusaha mendekat untuk menolong. Namun ombak saat itu semakin kuat menghantam bibir karang. Medan di sekitar lokasi berupa batu-batu tajam dan tebing terjal, membuatnya tak berani turun ke air. Satu langkah salah bisa merenggut nyawa dua orang sekaligus.


Beberapa detik yang terasa begitu lama berlalu. Ombak besar datang bertubi-tubi. Tubuh Sahrial terlihat terseret ke arah tebing batu. Ia sempat berjuang, namun akhirnya menghilang di balik hempasan air laut yang tak bersahabat.


Tangis dan teriakan minta tolong memecah suasana pantai yang sebelumnya sunyi.


Pencarian Penuh Harap dan Cemas


Sekitar pukul 14.10 Wita, saksi berlari mencari warga untuk meminta bantuan dan menghubungi Tim SAR. Warga berdatangan, mencoba menyisir bibir pantai dengan harapan Sahrial masih dapat ditemukan dalam keadaan selamat.


Pukul 15.20 Wita, Tim SAR tiba di lokasi dan langsung melakukan pencarian bersama warga. Ombak yang terus bergulung membuat proses penyisiran cukup sulit. Setiap detik yang berlalu terasa begitu berat bagi keluarga yang mulai berdatangan dengan wajah penuh kecemasan.


Harapan demi harapan perlahan memudar ketika waktu terus berjalan.


Hingga akhirnya, sekitar pukul 17.04 Wita, tubuh Sahrial ditemukan. Namun tak ada lagi denyut kehidupan. Ia ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia.


Suasana seketika berubah pilu. Tangis keluarga pecah di tepi pantai. Sejumlah warga hanya bisa tertunduk, menyaksikan bagaimana laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan, hari itu merenggut satu nyawa muda.


Perjalanan Terakhir Menuju Rumah Duka


Pukul 17.10 Wita, jenazah Sahrial dibawa menuju rumah duka di Dusun Palemba, Desa Kalepadang, Kecamatan Bontoharu. Di rumah sederhana itu, keluarga menanti dengan hati hancur. Kepergian Sahrial di usia 27 tahun menjadi luka mendalam yang sulit terobati.


Pantai Tamamelon sore itu kembali sunyi. Ombak tetap bergulung seperti biasa, seolah menyimpan rahasia dan duka yang baru saja terjadi.


Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu waspada saat beraktivitas di pesisir, terlebih ketika ombak tengah tinggi dan kondisi karang licin serta berbahaya.


Di balik keindahan laut Selayar, tersimpan kekuatan alam yang tak boleh diremehkan.

Laporan AMs/Aj



Lebih baru Lebih lama