SAMBAR.ID, Yogyakarta, Jateng - Suasana Idulfitri terasa lebih hangat bagi warga Sulawesi Tengah yang berada di Yogyakarta. Muhammad Fathur Razaq bersama Athalla Tiara Alifa menggelar halal bihalal yang mempertemukan para perantau, khususnya mahasiswa dan pelajar yang tidak sempat pulang kampung, Selasa (23/3/2026).
Sejak awal kegiatan, nuansa kekeluargaan langsung terasa. Tawa, sapa, dan pelukan hangat antar sesama warga Sulteng mengisi setiap sudut acara. Bagi para perantau, momen ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga menjadi pengobat rindu akan kampung halaman.
Berangkat dari kepedulian terhadap sesama perantau, Fathur Razaq menghadirkan ruang berkumpul yang hangat. Ia ingin memastikan bahwa lebaran tetap terasa utuh, meski dirayakan jauh dari keluarga di kampung halaman.
“Momentum halal bihalal ini kami hadirkan sebagai ruang kebersamaan bagi warga Sulawesi Tengah di perantauan, khususnya yang belum sempat pulang kampung. Kami ingin menghadirkan suasana kekeluargaan, agar teman-teman di Jogja tetap bisa merasakan hangatnya lebaran seperti di rumah sendiri. Semoga kegiatan ini bisa terus mempererat silaturahmi dan menjadi penguat ikatan persaudaraan kita semua,” ujar Fathur Razaq.
Tak hanya menghadirkan kebersamaan, Fathur Razaq bersama keluarga juga menyambut para tamu dengan penuh kehangatan. Mereka menyiapkan berbagai hidangan khas lebaran, mulai dari makanan utama hingga aneka kudapan, yang dinikmati bersama dalam suasana santai.
Kegiatan semakin hidup dengan hiburan sederhana, bernyanyi, bercengkerama, hingga berbagi cerita, yang membuat suasana terasa seperti di rumah sendiri.
Kehangatan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Rahman, mahasiswa asal Sulawesi Tengah di Yogyakarta, mengaku terharu dengan suasana yang tercipta.
“Kalau biasanya kita Lebaran hanya di kos, kali ini sangat berbeda. Rasanya seperti berlebaran di kampung halaman karena semua yang hadir adalah warga Sulawesi Tengah,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Farhan. Ia menilai keramahan tuan rumah membuat lebaran di tanah rantau terasa jauh lebih bermakna. Sementara itu, Krisna Puspita, yang telah lama menetap di Yogyakarta, juga merasakan kebahagiaan yang sama.
“Hari ini senang sekali, sangat! Bisa bertemu dengan teman-teman dari Sulteng dengan segala keanekaragaman. Seperti pulang ke rumah, semua ramah, seperti saudara. Menyanyi, menari, makan dan minum bersama. Sangat seru,” ungkapnya.
Kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi simbol kuatnya ikatan persaudaraan warga Sulawesi Tengah di perantauan. Di tengah jarak dan kesibukan, kehangatan yang tercipta membuktikan bahwa rasa kekeluargaan tetap hidup, bahkan semakin kuat, di tanah rantau. **







.jpg)



