BULUKUMBA, SAMBAR.ID – Siang yang semula tenang di pesisir Pantai Bira berubah menjadi hari yang penuh duka, Selasa (03/03/2026). Langit biru mendadak menghitam, asap tebal membumbung tinggi, dan kobaran api mengamuk tanpa ampun melahap hampir seluruh bangunan Paddupa Resort di Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba.
Resort yang selama ini menjadi tempat singgah para pelancong—tempat tawa anak-anak pecah di tepi pantai, tempat keluarga mengukir kenangan indah—dalam hitungan menit berubah menjadi puing dan abu. Suara kayu runtuh, kaca pecah, serta teriakan panik warga memecah harmoni debur ombak yang biasanya menenangkan.
Api dengan cepat membesar. Diduga angin laut yang berembus kencang serta material bangunan yang didominasi kayu membuat si jago merah begitu mudah menjalar dari satu sudut ke sudut lainnya. Empat unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan. Namun jarak tempuh dan ganasnya kobaran api membuat bangunan tak lagi bisa diselamatkan saat bantuan tiba.
Kerugian akibat peristiwa ini ditaksir mencapai miliaran rupiah. Namun di atas segalanya, kehilangan paling besar adalah dua nyawa yang tak sempat terselamatkan.
Dua orang dilaporkan tewas setelah diduga terjebak di dalam kamar saat api membesar. Mereka adalah Muklis (27), warga Borong Tellu, Kecamatan Gantarang, dan Muhammad Vhikal Idris (20), warga Desa Taccorong, Kecamatan Gantarang.
Jasad Vhikal ditemukan dalam kondisi hangus terpanggang di dalam kamar mandi (WC) bangunan resort—sebuah gambaran pilu yang membuat suasana di lokasi semakin sunyi dan berat oleh isak tangis.
Ucapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai kalangan masyarakat.
“Innalillahi Wainna Ilaihi Raji’un, turut berduka dan prihatin atas musibah kebakaran Paduppa Resort Bira milik Ibu Hj. A. Misbawati, mantan Plt Sekda Bulukumba,” demikian salah satu pesan duka yang beredar luas.
Selain korban meninggal dunia, satu orang korban luka bernama Wiwing, warga Somba Palioi, Kecamatan Kindang, telah dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Kondisinya kini dalam penanganan tenaga kesehatan.
Hingga malam hari, petugas gabungan masih melakukan penyisiran di lokasi kejadian guna memastikan tidak ada korban lain yang tertinggal di dalam bangunan. Garis pengaman dipasang, dan penyelidikan terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran.
Kini, yang tersisa hanyalah rangka bangunan yang menghitam dan bau asap yang masih menyengat di udara Bira. Di tengah geliat pariwisata yang selama ini menjadi kebanggaan Bulukumba, peristiwa ini menjadi lembaran kelam yang tak mudah dilupakan.
Asap mungkin perlahan menghilang tertiup angin laut. Namun duka yang tertinggal di jantung Tanjung Bira akan menetap lebih lama—di hati keluarga yang kehilangan, di mata warga yang menyaksikan, dan di ingatan siapa pun yang pernah singgah di tempat yang kini tinggal kenangan itu.
Sambar id AsM





.jpg)





