Viral! Oknum Satgas Tricakti Diduga Mabuk Saat Operasi di Air Anyir- Keributan Berujung Ricuh, Wartawan yang Meliputi di Gedung PT PM? Diduga Dipukul dan Diintimidasi, "Ketua GWI Babel Minta Kapolda Babel Usut Tuntas Kasus Ini"


Sambar.id BANGKA — Sabtu,07 Maret 2026 || Sebuah insiden yang diduga melibatkan oknum anggota Satgas Tricakti di kawasan Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, menjadi sorotan publik. Peristiwa yang awalnya merupakan kegiatan operasi satgas tersebut diduga berujung keributan di lapangan dan berlanjut pada dugaan kekerasan terhadap wartawan yang datang melakukan peliputan.


Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, kejadian bermula saat tim Satgas Tricakti melakukan kegiatan operasi di salah satu lokasi di kawasan Air Anyir. Namun situasi di lapangan mendadak memanas setelah salah satu oknum anggota satgas diduga berada dalam kondisi tidak stabil.


Bahkan beredar dugaan bahwa oknum anggota satgas tersebut berada di bawah pengaruh minuman keras (miras) saat menjalankan tugas operasi. Kondisi tersebut diduga memicu ketegangan dengan penjaga di lokasi hingga terjadi adu mulut yang kemudian berujung pada dugaan aksi pemukulan terhadap oknum anggota satgas tersebut.


Peristiwa tersebut dengan cepat menyebar di tengah masyarakat dan memunculkan berbagai spekulasi. Aparat yang seharusnya menjalankan tugas penertiban justru diduga terlibat keributan di lapangan saat operasi berlangsung.


Wartawan Datang Meliput Insiden


Informasi mengenai keributan tersebut kemudian sampai ke kalangan jurnalis. Sejumlah wartawan pun mendatangi lokasi untuk melakukan peliputan guna mengetahui kondisi yang sebenarnya di lapangan.


Tiga wartawan yang berada di lokasi tersebut yakni Dedy , Frendy , serta Wahyu ketiganya mendatangi kawasan gudang PT PMM di Air Anyir yang diduga berkaitan dengan lokasi terjadinya peristiwa tersebut.


Setibanya di lokasi, para jurnalis sempat menanyakan situasi kepada petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk gudang.


Namun saat berada di sekitar area tersebut, salah satu wartawan mencoba mengambil gambar sebuah truk yang hendak masuk ke area gudang PT PMM sebagai bagian dari dokumentasi liputan.

Tindakan tersebut diduga membuat sopir truk tidak terima dan meminta agar foto yang telah diambil dihapus.


Beberapa saat kemudian, ketika truk tersebut keluar dari area gudang, wartawan kembali mencoba mengambil gambar.


Diduga sopir truk tersebut turun dari kendaraannya dan langsung melakukan pemukulan terhadap salah satu wartawan di bagian wajah.


Tidak hanya itu, seorang yang diduga petugas keamanan perusahaan juga disebut menarik baju Frendy Primadana dari belakang saat ia hendak meninggalkan lokasi menggunakan sepeda motor hingga terjatuh.


Peristiwa tersebut menimbulkan keprihatinan karena terjadi ketika wartawan tengah menjalankan tugas jurnalistik untuk kepentingan publik.


Mobil Awak Media Diduga Dicegat


Dalam waktu yang hampir bersamaan, tim awak media lainnya yang berada di dalam satu mobil bersama tiga anggota Gerakan Wartawan Indonesia (GWI) Bangka Belitung juga diduga mengalami pencegatan di depan gudang PT PMM.


Saat kendaraan yang mereka tumpangi melintas di jalan umum di depan lokasi tersebut, seorang satpam diduga menghentikan mobil awak media dan mempertanyakan keberadaan mereka.


“Kenapa mobil kalian mondar-mandir terus lewat sini?” ujar satpam tersebut."


Tidak lama kemudian, seorang sopir truk yang berada di lokasi juga diduga mendekati kendaraan awak media sambil marah-marah dan melontarkan kata-kata bernada ancaman.


“Awas kalian ya, tunggu kalian di sini, jangan ke mana-mana!” ujar sopir tersebut."


Saat kejadian berlangsung, lima orang awak media berada di dalam kendaraan tersebut. Situasi di sekitar gerbang gudang sempat memanas akibat sikap beberapa orang di lokasi yang dinilai intimidatif terhadap awak media.


Aktivitas Gudang PT PMM Ikut Disorot


Di tengah insiden tersebut, aktivitas di dalam gudang PT PMM juga ikut menjadi perhatian.


Pantauan awak media di lapangan menunjukkan bahwa dalam dua hari terakhir sejumlah mobil dump truck diduga terlihat keluar masuk dari area gudang tersebut.


Kendaraan angkutan tersebut tampak hilir mudik melalui pintu gerbang gudang. Selain itu, dari kejauhan juga terlihat tumpukan karung dalam jumlah cukup banyak tersusun di dalam area gudang.


Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat mengenai aktivitas yang sebenarnya berlangsung di dalam gudang tersebut.


Publik pun mempertanyakan legalitas kegiatan yang diduga berkaitan dengan komoditas tambang, termasuk apakah operasional tersebut telah memiliki dokumen perizinan resmi seperti Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebagaimana diwajibkan dalam regulasi pertambangan.


Ketua GWI Babel Desak Kapolda Usut Tuntas


Menanggapi peristiwa tersebut, Ketua Gerakan Wartawan Indonesia (GWI) Provinsi Bangka Belitung, Tarmizi, mendesak Kapolda Kepulauan Bangka Belitung agar segera mengusut tuntas dugaan kekerasan terhadap wartawan tersebut.


“Kami meminta Kapolda Bangka Belitung segera mengusut tuntas kasus ini. Jika benar terjadi kekerasan terhadap wartawan, pelaku harus diproses hukum agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” tegasnya.


Ia juga menegaskan bahwa wartawan bekerja untuk kepentingan publik sehingga perlindungan terhadap kerja jurnalistik harus ditegakkan.


Terancam UU Pers dan KUHP


Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, kerja jurnalistik mendapat perlindungan hukum.


Pasal 4 Ayat (3) menyebutkan bahwa pers nasional memiliki hak untuk mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan informasi.


Sementara Pasal 18 Ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang yang dengan sengaja menghambat atau menghalangi kerja jurnalistik dapat dipidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.


Selain itu, jika terbukti terjadi tindakan kekerasan fisik terhadap wartawan, pelaku juga dapat dijerat Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman pidana penjara hingga 2 tahun 8 bulan.


Hingga berita ini diterbitkan, pihak Satgas Tricakti maupun pihak PT PMM belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut maupun aktivitas yang berlangsung di dalam gudang tersebut.


Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai apa sebenarnya yang terjadi di balik aktivitas di kawasan tersebut hingga situasi di lokasi memanas dan wartawan yang datang melakukan peliputan justru diduga mengalami kekerasan serta intimidasi.

(@ns)

Lebih baru Lebih lama