Diduga Lapas Batam Bocor dari Dalam? HP Ilegal, Dugaan Narkoba, Jatah Makan Menyusut- Siapa Bermain di Balik Tembok Besi Lapas Batam

Sambar.id Batam — Tembok tinggi, jeruji besi, pintu berlapis, pemeriksaan ketat. Secara teori, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) adalah ruang paling steril dari barang terlarang. Namun di Batam, tembok tebal itu kini justru memunculkan pertanyaan paling keras: bagaimana ponsel, dugaan narkoba, hingga praktik mencurigakan lain disebut bisa hidup nyaman di dalam lapas?


Ini bukan lagi sekadar isu kedisiplinan narapidana. Ini adalah dugaan kebocoran sistem yang mengarah pada satu pertanyaan besar: apakah pengamanan Lapas Batam benar-benar dijaga, atau justru sudah lama bocor dari dalam?


Sejumlah keluarga warga binaan, mantan narapidana, hingga sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan, menyebut kondisi di balik tembok Lapas Batam jauh dari kata steril. Dugaan yang muncul bukan perkara kecil. Ponsel disebut bebas beredar, bisa dipakai, bahkan diduga disewakan di dalam. Lebih jauh, dugaan peredaran narkoba pun disebut bukan lagi rahasia di kalangan penghuni lapas.


Jika semua ini benar, maka yang sedang dipertanyakan bukan hanya perilaku napi—tetapi integritas sistem, pengawasan petugas, dan siapa yang diduga bermain di balik jeruji.


HP Ilegal di Balik Jeruji: Siapa yang Buka Pintu?


Keberadaan ponsel di dalam lapas bukan sekadar pelanggaran tata tertib. Itu adalah bukti paling awal bahwa sistem pengamanan diduga sedang bermasalah.


Sebab pertanyaannya sederhana: ponsel tidak punya kaki untuk berjalan sendiri masuk ke sel tahanan.


Barang elektronik itu semestinya mustahil lolos dari lapas tanpa celah. Ada pintu pemeriksaan, ada petugas jaga, ada kontrol barang, ada pengawasan berlapis. Maka jika HP bisa masuk, dipakai, bahkan disebut bisa disewa, publik berhak curiga: ada sistem yang bocor, atau ada yang sengaja membukakan jalan.


“Kalau memang mau dibersihkan, jangan cuma napi yang diperiksa. Pegawai juga harus diperiksa,” ungkap salah satu keluarga warga binaan.


Pernyataan ini menghantam inti persoalan. Sebab mustahil membahas barang terlarang di dalam lapas tanpa menguliti kemungkinan adanya pembiaran, kelalaian, atau bahkan dugaan keterlibatan oknum dari dalam.


Seorang mantan napi yang baru bebas menyebut praktik penggunaan HP di dalam lapas bukan rahasia.


“Di dalam itu HP bisa disewa. Yang tahu semua orang dalam, tapi ya tutup mata,” ujarnya.


Kalimat itu pendek, tapi dampaknya panjang. Jika benar ponsel diperjualbelikan atau disewakan di dalam lapas, maka ini bukan lagi pelanggaran biasa. Ini mengarah pada dugaan adanya “ekonomi gelap” di balik jeruji—barang terlarang masuk, dipakai, lalu menghasilkan uang.


Pertanyaannya: uang itu mengalir ke siapa?


Dari Balik Sel, Dugaan Bisnis Haram Tetap Hidup


Ponsel di dalam lapas bukan ancaman kecil. Dari alat sekecil itu, banyak kejahatan bisa tetap bernapas.


Komunikasi ilegal bisa berjalan. Transaksi bisa dikendalikan. Instruksi bisa dikirim. Jaringan di luar bisa tetap bergerak meski pelakunya ada di dalam sel.


Dan di titik inilah dugaan paling serius mencuat: narkoba.


Sejumlah sumber menyebut dugaan peredaran narkoba di dalam Lapas Batam bukan isu baru. Bukan kabar sehari. Bukan pula bisik-bisik liar. Isu ini disebut telah lama hidup dan terlalu sering terdengar untuk dianggap sekadar rumor.


“Kalau soal barang, di dalam itu bukan cerita baru,” ujar sumber singkat.


Kalimat itu menjadi alarm keras.


Sebab bila narkoba benar-benar masih bisa beredar di dalam lapas, maka ini bukan sekadar pelanggaran pengamanan. Ini adalah kegagalan fungsi pemasyarakatan.


Lapas yang seharusnya menjadi tempat pembinaan berubah menjadi ruang yang justru diduga memberi napas bagi bisnis haram untuk tetap hidup.


Lebih mengerikan lagi, jika dugaan ini benar, maka tembok lapas bukan memutus jaringan—melainkan hanya memindahkan pusat kendali ke balik jeruji.


Jatah Makan Menyusut: Anggaran Mengecil atau Nurani Menipis?


Di tengah sorotan dugaan ponsel dan narkoba, persoalan lain yang tak kalah serius ikut menyeruak: makanan warga binaan pun terpangkas. (Guntur) 

Lebih baru Lebih lama