Hilirisasi Kelapa ; Energi Baru dari UMKM untuk Masa Depan Sulawesi Tengah

 

Oleh : Sudaryano Lamangkona S.Sos M.Si, Staf Ahli Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian UMKM RI


SAMBAR.ID, Opini - Peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi Sulawesi Tengah ke 62 tahun ini, menjadi momentum emas untuk melirik kembali potensi "Emas Hijau" yang terhampar luas dari pesisir hingga pegunungan kita, yaitu kelapa.


Selama ini, kelapa hanya dipandang sebagai komoditas mentah, namun dengan sentuhan teknologi pirolisis, limbahnya dapat bertransformasi menjadi energi alternatif bernilai tinggi. 


Inovasi ini bukan sekadar solusi lingkungan, melainkan kado istimewa bagi UMKM Sulawesi Tengah untuk naik kelas melalui hilirisasi berbasis kearifan lokal dan sumber daya alam yang melimpah.


Limbah kelapa, terutama tempurung dan sabut, memiliki densitas energi yang luar biasa jika diolah dengan benar. Melalui proses pirolisis, tempurung kelapa dapat dikonversi menjadi asap cair (liquid smoke) untuk pengawet alami serta bio-char yang berfungsi sebagai pembenah tanah atau bahan bakar padat.


Bagi Sulawesi Tengah, yang memiliki puluhan ribu hektar perkebunan kelapa, teknologi ini adalah jawaban atas masalah limbah perkebunan yang selama ini hanya dibakar sia-sia tanpa memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani dan pelaku usaha kecil.


Selain limbah, kelapa yang mempunyai potensi menghasilkan berbagai ragam produk turunan itu juga telah diolah menjadi produk kosmetik yang sangat baik untuk kesehatan dan kecantikan, yang dibutuhkan oleh manusia terutama kaum perempuan.


Dalam ekosistem UMKM, pemanfaatan kelapa ini akan menciptakan struktur ekonomi yang sangat kuat di desa-desa. Setiap kecamatan yang menjadi sentra produksi kelapa dapat memiliki unit pengolahan mandiri yang dikelola oleh pemuda setempat atau kelompok tani.


Hal ini tidak hanya mengurangi ketergantungan masyarakat pada energi fosil, tetapi juga memastikan bahwa perputaran uang dari hasil bumi di Sulawesi Tengah, akan tetap tinggal dan dinikmati oleh orang Sulawesi Tengah sendiri. 


Hal ini tentu selaras dengan semangat Nawa Cita Presiden Prabowo dan Nawa Cita Sulteng Nambaso untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat dan daerah.


Lebih jauh lagi, hilirisasi kelapa ini merupakan dukungan nyata bagi sektor pertanian yang menjadi tulang punggung Sulawesi Tengah. Asap cair hasil pirolisis dapat digunakan oleh UMKM pengolahan ikan di wilayah pesisir sebagai bahan pengasapan yang lebih sehat dan higienis dibandingkan cara tradisional.


Sinergi antar-sektor UMKM ini—dari pengolah limbah hingga pengolah bahan kosmetik, kesehatan dan pangan—akan membentuk rantai pasok lokal yang tangguh, efisien, dan memiliki daya saing tinggi di pasar nasional maupun ekspor.


Implementasi teknologi ini tentu membutuhkan peran aktif dan dukungan dari Kementerian dan Lembaga, secara khusus Kementerian UMKM RI dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Tojo Unauna dalam hal standarisasi produk, legalisasi usaha, akses permodalan dan akses pasar.


*****


Dikutip dari Rindang. Id, ada kisah menarik dan heroik seorang 'Kartini' dari Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Unauna yang aktif mengembangkan produk berbahan baku kelapa berbasis kelompok dan teknologi sederhana menjadi produk kosmetik dan kesehatan. Adalah Sihka, seorang perempuan yang kembali ke kampungnya di Togean setelah merantau diluar negeri.


Dia melihat peluang dan potensi kelapa dan nilam yang melimpah dan jika diolah akan menghasilkan manfaat dan cuan. Tahun 2018, Sihka memulai eksperiman dan dikumpulnyalah perempuan-perempuan yang ada di Desanya Tumbulawa. Kelapa dan nilam dijual hanya bentuk mentah dan tidak terolah menjadi bahan setengah jadi ataupun produk jadi.


Togean Naturale terus dikembangkan dengan serius dan menjadi branding baru disektor usaha mikro yang fokus pada kecantikan dan kesehatan. Dengan visi mempekerjakan 1.000 ibu-ibu, Sihka pada fase awal merambah pasar penjualan melalui online itu tidak menyangka bahwa pembeli, justru banyak datang dari Bali dan mayoritas wisatawan mancanegara.


Kini Bali menjadi pasar terbesar. Produk Togean Naturale tersedia di lebih dari 100 toko ritel, mulai dari toko organik, butik, supermarket, hingga toko suvenir dan menempati gerai di hotel mewah. Jakarta menyusul sebagai pasar terbesar kedua. Produk mereka telah masuk jaringan supermarket premium seperti Range Market, Hero Supermarket, hingga Grand Lucky SCBD.


Sedangkan di wilayah Sulawesi terdapat 10 resort yang menggunakan produk Togean Naturale sebagai amenitas room yang ada di Togean, Bunaken, dan Gorontalo. Kini pengiriman produk Togean Naturale telah merambah bebrapa negara diantaranya Belanda, Jerman, Swedia, dan Singapura. Produk ini juga mulai dipasarkan melalui Amazon di Amerika Serikat dan Kanada.


****


Momentum HUT Provinsi harus menjadi titik tolak untuk mengeksplor, mengurai, mendorong serta memperkuat kebijakan yang mempermudah, melindungi dan memberdayakan UMKM produktif untuk mendapatkan bantuan peralatan produksi, packing, kapasitas usaha serta izin edar untuk produk turunannya.


Sebagaimana mandat dari Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2021 Tentang Perlindungan, Kemudahan dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM, dimana dalam salah satu pasalnya mengatur tentang 40% APBN dan APBN mengalokasikan belanjanya untuk produk-produk UMKM dengan mekanisme yang diatur dalam ketentuan dan peraturan lainnya.


Jika pemerintah hadir memberikan pendampingan teknis dan manajerial, maka unit-unit pengolahan produk kelapa ini akan tumbuh subur dan menjadi simbol modernisasi industri kerakyatan di bumi seribu megalit ini. Dari sisi lingkungan, langkah ini merupakan bentuk nyata komitmen Sulawesi Tengah terhadap ekonomi hijau.


Melalui semangat "Sulteng Nambaso" melalui program 9 Berani hanya dapat diwujudkan dengan mengubah cara pandang terhadap pemanfaatan kelapa sebagai produk organik yang menjadi kebutuhan pasar nasional dan internasional.


Kedepan, tentu UMKM tidak lagi hanya menjual kelapa dalam bentuk kopra dengan harga yang fluktuatif, tetapi bergerak lebih maju menjadi penyedia solusi energi, bahan pembantu industri serta produk kosmetik dan kesehatan.


Perubahan paradigma ini akan memberikan kepastian pendapatan bagi petani kelapa dan membuka ribuan peluang kerja baru di sektor manufaktur skala mikro, kecil dan menengah yang tersebar di seluruh pelosok kabupaten dan kota se Sulawesi Tengah.


Mari kita jadikan hari jadi Sulawesi Tengah ini sebagai awal dari revolusi industri kelapa yang inklusif. Transformasi hilirisasi kelapa ini akan menjadi berkah bagi masyarakat dan petani, sebagai bukti bahwa dengan inovasi tepat guna, UMKM kita mampu menjawab tantangan zaman dan adaptif.


Dengan bersatunya semangat kearifan lokal, pengetahuan dan teknologi, kita yakin bahwa Sulawesi Tengah semakin Berani untuk menjadi provinsi yang mandiri dan kuat secara ekonomi melalui tangan-tangan kreatif para pengusaha UMKM-nya.**

Lebih baru Lebih lama