Sambar.id Kajang, Bulukumba — Tradisi adat masih kuat dijaga oleh masyarakat Kajang Ammatoa, Kabupaten Bulukumba. Salah satunya adalah lantunan musik duka yang dikenal dengan sebutan “Basing”, yang kerap dimainkan dalam rangkaian prosesi berkabung.
Kepala Pasar Kindang, Hanasing, menjelaskan bahwa “Basing” merupakan bagian dari adat dan budaya yang terus dilestarikan oleh masyarakat Kajang, khususnya di wilayah Ammatoa.
“Basing namanya. Kalau diambil lagi, biasanya dimainkan kembali pada 40 harinya, bahkan sampai 100 harinya,” ungkap Hanasing saat memberikan keterangan, Senin (6/4).
Menurutnya, musik duka tersebut tidak hanya menjadi pengiring suasana berkabung, tetapi juga memiliki makna mendalam sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum serta pengingat bagi keluarga yang ditinggalkan.
Tradisi ini biasanya dilakukan dalam momen-momen penting pasca kematian, seperti peringatan hari ke-40 hingga ke-100. Kehadiran “Basing” diyakini mampu menghadirkan suasana sakral serta memperkuat nilai kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat.
Masyarakat adat Kajang Ammatoa sendiri dikenal konsisten menjaga warisan leluhur, termasuk dalam tata cara prosesi duka yang sarat nilai spiritual dan budaya.
Dengan tetap dilaksanakannya tradisi “Basing”, diharapkan kearifan lokal tersebut dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
penulis A.syarif palangisang






.jpg)



