Kepada Sambar.id, Andi mengatakan bahwa semangat Marhaenisme yang diperjuangkan para pendiri bangsa lahir dari realitas kehidupan rakyat kecil yang bekerja keras namun sering berada dalam posisi yang lemah secara ekonomi.
"Bulan Marhaen bukan sekadar mengenang sejarah. Ini adalah pengingat bahwa negara harus hadir untuk memastikan rakyat kecil memperoleh keadilan, kesempatan kerja, dan kehidupan yang lebih sejahtera," tegas Andi.
Menurutnya, berbagai persoalan yang masih dirasakan masyarakat, mulai dari tekanan ekonomi, terbatasnya lapangan pekerjaan, hingga ketimpangan kesejahteraan, tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
Ia menilai pembangunan harus mampu menjangkau masyarakat di lapisan bawah dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan mereka sehari-hari.
"Pertumbuhan ekonomi tentu penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana manfaatnya bisa dirasakan oleh rakyat kecil. Jangan sampai mereka hanya menjadi penonton di negeri sendiri," ujarnya.
Andi juga menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila, khususnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, harus diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
Menurutnya, Bulan Marhaen harus menjadi momentum evaluasi bersama agar pembangunan nasional tidak hanya berorientasi pada angka-angka pertumbuhan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
"Selama masih ada masyarakat yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, selama masih ada kesenjangan sosial yang dirasakan rakyat kecil, maka semangat perjuangan kaum Marhaen tetap relevan untuk diperjuangkan," pungkasnya.
Peringatan Bulan Marhaen tahun ini menjadi pengingat bahwa cita-cita kemerdekaan Indonesia bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan harapan bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali.
(Ilmia Jatim)






.jpg)



