Gencatan Senjata Buyar, AS-Iran Saling Serang Lagi hingga Harga Minyak Melonjak 7%

Sambar.id, Jakarta - Harapan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk segera keluar dari pusaran konflik dengan Iran kembali buyar. Gencatan senjata yang baru seumur jagung kini berantakan setelah kedua negara kembali terlibat aksi saling serang. Eksalasi terbaru ini memicu kekhawatiran akan pecahnya perang berkepanjangan yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan serta pasar energi global.


"Trump telah menempatkan dirinya dalam posisi sulit. Baik melalui cara militer maupun diplomatik, tampaknya ia tidak akan mendapatkan banyak keuntungan dari Iran," ujar Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah untuk pemerintahan AS, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (9/7/2026).


Menurut Miller, ruang gerak Trump kini semakin menyempit karena setiap opsi kebijakan yang tersedia sama-sama membawa risiko politik dan militer yang besar.


Duduk Perkara Ketegangan Baru


Ketegangan kembali meledak setelah Trump menyatakan kesepakatan penghentian konflik telah "berakhir". Langkah ini diambil Trump dengan memerintahkan serangan militer baru, sebagai respons atas serangan Iran terhadap fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.


Aksi Teheran tersebut ditengarai merupakan balasan atas tindakan Washington yang sebelumnya membombardir target-target Iran. AS berdalih serangan itu adalah balasan atas sabotase terhadap kapal-kapal tanker di jalur strategis Selat Hormuz. Dampak langsung dari perang yang memanas ini membuat harga minyak dunia langsung melonjak sekitar 7% akibat kekhawatiran pasar atas tersumbatnya pasokan energi dunia.


Padahal, baru tiga pekan lalu kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memulai gencatan senjata. Perkembangan terbaru ini membuktikan bahwa jalan menuju perdamaian di Timur Tengah masih sangat terjal.


Sejumlah analis menilai Trump kini dihadapkan pada buah simalakama: meningkatkan operasi militer dengan risiko perang terbuka, atau melunak namun justru memperkuat posisi tawar Teheran. Di sisi lain, tekanan politik domestik AS terus mengimpit Trump seiring turunnya tingkat kepuasan publik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.


Bukan Perang Skala Penuh, tapi 'Kekerasan Tanpa Akhir'


Mantan pejabat intelijen nasional AS untuk Timur Tengah, Jonathan Panikoff, memperkirakan konflik ini kecil kemungkinan berkembang menjadi perang terbuka skala penuh. Kendati demikian, situasi akan terjebak dalam lingkaran setan.


"Situasinya tidak akan kembali ke perang skala penuh. Tetapi pengaturan default-nya (kondisi otomatisnya) sekarang adalah ketidakstabilan yang terkendali, yaitu kekerasan yang berulang tanpa jalan keluar permanen," tegas Panikoff.


Akar persoalan dari ketegangan baru ini juga berpusat pada perebutan kendali di Selat Hormuz, jalur air yang dilewati seperlima perdagangan minyak dunia. Iran berkeras ingin memegang peran utama dalam pengelolaan jalur strategis tersebut. Sebaliknya, AS dan sekutu negaranya di Teluk menuntut kebebasan navigasi internasional tanpa hambatan.


Sementara itu, analis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Jon Alterman, menilai Iran sedang membaca psikologi politik Trump. "Pihak Iran menilai bahwa Trump tidak ingin terseret ke dalam perang tanpa akhir, dan negara-negara Teluk sangat menginginkan keadaan normal. Taruhan mereka (Iran) adalah Trump akan menyerang selama beberapa hari, lalu negara-negara Teluk Arab akan mendesaknya untuk berhenti," urai Alterman.


Pengamat dari Universitas Johns Hopkins, Laura Blumenfeld, menambahkan bahwa faktor ekonomi domestik akan menjadi rem bagi Trump. Kenaikan harga energi akibat konflik ini berpotensi memperburuk inflasi di AS, yang bisa menjadi beban politik fatal bagi partai Republik di pemilu mendatang.


Oleh karena itu, para pengamat menyimpulkan konflik AS-Iran ke depan akan terus bergerak dalam pola eskalasi terbatas yang berulang—panas lalu mereda, namun tanpa ada penyelesaian permanen. (WD).


Dikutip dari Reuters, Kamis (9/7/2026).


Laporan: Koordinator Liputan/Editor.

@sbr_id/red.

Lebih baru Lebih lama