Oleh: Andi Syarif Palangisang
BULUKUMBA, SAMBAR.ID — Ada masa ketika kita pernah berjalan bersama. Bukan sekadar saling mengenal, tetapi pernah berdiri di garis depan, menghadapi berbagai keadaan dan rintangan dalam sebuah perjuangan yang sama.
Saat itu, tidak ada yang bertanya siapa yang kelak akan mendapatkan jabatan. Tidak ada yang menghitung siapa yang nantinya akan menikmati kemenangan. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa perjuangan harus dilakukan bersama.
Waktu kemudian berjalan.
Keadaan berubah. Nasib dan garis tangan setiap orang memang tidak pernah sama. Ada yang kemudian mendapatkan jabatan dan kedudukan, sementara yang lain tetap menjalani kehidupan seperti sebelumnya.
Itu adalah kenyataan hidup yang harus diterima.
Namun ada satu hal yang seharusnya tidak berubah: ingatan terhadap sejarah dan orang-orang yang pernah berjalan bersama.
Ketika jabatan telah diperoleh, jangan sampai nama dan wajah mereka yang dahulu berada di samping kita perlahan terlupakan. Jangan sampai perjuangan yang dahulu dilakukan bersama seakan-akan menjadi perjuangan seorang diri.
Sebab sebelum berada di tempat yang sekarang, ada perjalanan panjang yang pernah dilalui bersama.
Ada kawan yang memberikan waktu.
Ada yang memberikan tenaga.
Ada yang memberikan pikiran.
Ada pula yang tetap bertahan ketika hasil perjuangan belum terlihat.
Mereka mungkin tidak mendapatkan jabatan. Mereka mungkin tidak berada di tempat yang sama ketika kemenangan akhirnya datang. Tetapi mereka tetap bagian dari perjalanan tersebut.
Karena itu, kemenangan tidak seharusnya membuat seseorang merasa menjadi satu-satunya yang paling berjasa.
Kalimat seperti, “Seberapa besar yang kamu bawa untuk kemenangan itu?”, mungkin saja terdengar biasa. Namun perjuangan tidak selalu dapat diukur dari apa yang dibawa pulang.
Ada pengorbanan yang tidak pernah dicatat.
Ada kesetiaan yang tidak pernah dihitung.
Ada perjuangan yang tidak pernah disebut ketika keberhasilan sudah berada di depan mata.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Bukan pula untuk mencari perdebatan. Ini hanya sebuah opini dan pengingat sederhana bahwa dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah benar-benar berjalan seorang diri.
Nasib boleh berbeda. Garis tangan boleh berubah. Jabatan boleh berganti. Tetapi sejarah jangan pernah dilupakan.
Seseorang boleh berada di tempat yang lebih tinggi hari ini. Namun jangan sampai ketinggian itu membuatnya tidak lagi mampu menoleh kepada orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Sebab menjadi besar bukan berarti melupakan masa lalu.
Memiliki jabatan bukan berarti seluruh keberhasilan diraih seorang diri.
Dan menikmati kemenangan bukan alasan untuk menghapus nama serta wajah mereka yang pernah berdiri di garis perjuangan yang sama.
Mungkin mereka tidak meminta apa-apa.
Mungkin mereka tidak menuntut balasan.
Mungkin mereka hanya berharap satu hal sederhana: jangan dilupakan.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan berganti, kedudukan akan berubah, dan waktu akan terus berjalan.
Tetapi sejarah akan tetap mencatat siapa yang pernah bersama.
Maka, ketika suatu hari kita telah sampai pada tempat yang lebih tinggi, tidak ada salahnya sesekali menoleh ke belakang.
Bukan untuk menghitung jasa.
Bukan untuk menuntut balasan.
Tetapi sekadar mengingat bahwa dahulu, ada orang-orang yang pernah berjalan bersama kita.
Jangan lupa nama mereka. Jangan lupa wajah mereka. Jangan lupa perjuangan mereka.
Karena kemenangan yang paling indah bukan hanya ketika kita berhasil sampai di puncak, tetapi ketika berada di puncak kita masih mampu berkata:
“Aku tidak sampai di sini seorang diri. Ada mereka yang pernah berjalan bersamaku, dan aku tidak pernah melupakan mereka.”
Editor Dg Pagiling









