Dugaan Kekerasan di Pasuruan, Siswa Kelas 1 SD Diduga Dicubit dan Ditampar di Depan Sekolah

Ilustrasi : Ibu tiri diduga melakukan kekerasan terhadap anak di depan gerbang sekolah.

SAMBAR.ID// PASURUAN - Dugaan kekerasan terhadap anak di bawah umur mencuat di wilayah Pasuruan. Seorang siswa laki-laki kelas 1 Sekolah Dasar (SD) diduga mengalami kekerasan fisik oleh ibu tirinya di sekitar gerbang sekolah.

Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar tiga hari sebelum informasi ini disampaikan kepada awak media. Sejumlah warga yang mengetahui kejadian kemudian memberikan keterangan kepada awak media pada Sabtu (26/9/2026).

Menurut keterangan saksi, kejadian bermula ketika buku pelajaran korban tertinggal di rumah. Ibu tiri korban kemudian datang ke sekolah. Di sekitar gerbang sekolah, anak tersebut diduga dicubit berulang kali dan ditampar.

Usai kejadian, ibu tiri korban disebut meninggalkan lokasi. Sementara korban kemudian pulang seorang diri dengan masih mengenakan seragam sekolah. Dalam perjalanan, anak tersebut dilaporkan sempat meminta bantuan warga untuk menyeberangi jalan raya karena takut dengan kendaraan yang melintas.

"Anaknya masih kelas satu SD. Pulang sendiri dalam kondisi ketakutan, kemudian minta tolong ke warga untuk diseberangkan," ungkap seorang saksi yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Informasi yang dihimpun juga menyebutkan, korban memiliki seorang kakak laki-laki yang bersekolah di tempat yang sama dan saat ini duduk di kelas 6 SD.

Sebelum kejadian tersebut, persoalan terkait biaya pendidikan disebut pernah muncul. Menurut keterangan saksi, ibu tiri korban pernah menyampaikan keberatan kepada pihak sekolah mengenai biaya yang harus ditanggung untuk pendidikan anak-anak tersebut.

"Bu, anak kulo tak sekolahan. Lek wonten biaya nopo-nopo, kulo boten sanggup," ujar saksi menirukan ucapan yang disebut pernah disampaikan kepada salah satu guru.

Sempat beredar informasi bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan biaya buku paket sebesar Rp125.000. Namun, berdasarkan keterangan warga yang dihimpun sementara, nominal tersebut disebut merupakan biaya buku paket untuk kakak korban yang duduk di kelas 6, bukan untuk korban yang masih kelas 1 SD.

Meski demikian, hubungan antara persoalan biaya pendidikan dengan dugaan kekerasan tersebut belum dapat dipastikan. Redaksi masih melakukan penelusuran untuk mendapatkan keterangan yang lebih utuh dari berbagai pihak.

Redaksi juga berupaya meminta konfirmasi kepada pihak sekolah, keluarga korban, UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), serta pihak terkait lainnya untuk memastikan kronologi kejadian sekaligus mengetahui langkah perlindungan terhadap anak tersebut.

Demi kepentingan terbaik bagi anak, identitas korban, nama sekolah, dan detail domisili yang dapat mengarah pada identitasnya tidak dicantumkan dalam pemberitaan.

Informasi ini disusun berdasarkan keterangan saksi dan hasil penelusuran di lapangan. sambar.id menyajikannya sesuai fakta yang diperoleh selama proses peliputan.

(Ilmia)
Lebih baru Lebih lama