JAMBI SAMBAR ID— Masyarakat kembali diingatkan untuk mewaspadai modus penipuan melalui aplikasi pesan instan. Nomor WhatsApp milik Mas Sholihin diduga disalahgunakan setelah sejumlah kontak menerima pesan yang mengatasnamakan dirinya dan berisi permintaan pinjaman uang.
Pesan tersebut diketahui beredar ketika pemilik nomor sedang berada di RSUD Raden Mattaher Jambi untuk mendampingi urusan pasien.
Sejumlah kontak menerima pesan yang berisi permintaan pinjaman uang dengan alasan tertentu serta janji pengembalian pada hari berikutnya. Kondisi ini menimbulkan kecurigaan karena pemilik nomor menyatakan tidak pernah mengirimkan pesan tersebut.
Peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi penerima pesan agar tidak langsung mempercayai permintaan uang yang disampaikan melalui nomor tersebut.
Kepada wartawan Sambar.id, Mas Sholihin menyampaikan dugaan bahwa nomor telepon miliknya telah disadap atau digunakan oleh pihak lain.
“Dari nomor HP saya bisa tersadap dan dipakai oleh pelaku,” ujarnya.
Namun demikian, dugaan penyadapan maupun pengambilalihan akun tersebut belum dapat dipastikan secara teknis. Mekanisme pengiriman pesan, termasuk kemungkinan pengambilalihan akun WhatsApp, penyalahgunaan nomor, akses melalui perangkat lain yang terhubung, atau modus lainnya, masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Pesan Permintaan Uang Jangan Langsung Dipercaya
Kasus tersebut menjadi perhatian karena modus penyalahgunaan identitas digital kerap memanfaatkan kepercayaan korban terhadap orang yang telah dikenalnya.
Pelaku dapat menggunakan nama, foto profil, nomor telepon, maupun akun komunikasi seseorang untuk meyakinkan kontak bahwa pesan tersebut benar-benar berasal dari pemilik nomor.
Karena itu, setiap pesan yang tiba-tiba meminta pinjaman uang, transfer, kode OTP, PIN, kata sandi, maupun data pribadi sebaiknya tidak langsung ditanggapi.
Verifikasi melalui panggilan telepon, video call, atau nomor lain yang sebelumnya telah dikenal merupakan langkah penting sebelum melakukan transaksi.
Dalam kasus ini, Mas Sholihin juga mengingatkan kontak-kontaknya agar tidak memenuhi permintaan transfer uang yang berasal dari pesan mencurigakan tersebut sebelum memperoleh konfirmasi langsung darinya.
Terjadi Saat Pemilik Nomor Berada di Rumah Sakit
Persoalan tersebut diketahui ketika Mas Sholihin sedang berada di lingkungan RSUD Raden Mattaher Jambi. Kondisi itu membuat komunikasi melalui telepon seluler menjadi penting, terlebih dirinya disebut sedang mendampingi urusan pasien dan berasal dari luar kota.
Di tengah situasi tersebut, muncul pesan yang mengatasnamakan dirinya dan meminta bantuan berupa pinjaman uang.
Peristiwa itu menimbulkan kekhawatiran bahwa ada pihak lain yang berupaya memanfaatkan nomor atau identitas digital miliknya untuk memperoleh keuntungan.
Meski demikian, Sambar.id tidak menyimpulkan bahwa telah terjadi penyadapan atau pembajakan akun sebelum terdapat hasil pemeriksaan teknis maupun penyelidikan resmi.
Bukti Digital Perlu Diamankan
Untuk membantu mengungkap persoalan tersebut, bukti digital seperti tangkapan layar percakapan, waktu pengiriman pesan, nomor tujuan, riwayat perangkat yang terhubung, notifikasi keamanan, serta bukti transaksi apabila ada, perlu diamankan.
Pemilik akun juga dapat melakukan langkah pengamanan terhadap akun dan perangkatnya serta melaporkan dugaan penyalahgunaan kepada pihak berwenang apabila terdapat indikasi tindak pidana atau kerugian.
Masyarakat yang menerima pesan permintaan uang dari nomor tersebut diimbau tidak melakukan transfer sebelum melakukan verifikasi langsung.
Jika telah melakukan transaksi, bukti transfer dan seluruh percakapan sebaiknya segera disimpan untuk kepentingan penelusuran.
Sambar.id: Jangan Biarkan Kepercayaan Menjadi Celah Penipuan
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kejahatan digital dapat memanfaatkan hal yang paling sederhana: kepercayaan.
Nomor telepon yang dikenal tidak serta-merta menjamin bahwa setiap pesan yang diterima benar-benar dikirim oleh pemiliknya.
Terlebih apabila isi pesan tidak lazim, bersifat mendesak, atau berkaitan dengan permintaan uang.
Sambar.id mengimbau masyarakat untuk menerapkan prinsip sederhana: berhenti sejenak, lakukan verifikasi, kemudian bertindak.
Redaksi menegaskan bahwa pemberitaan ini disusun berdasarkan keterangan narahubung dan pihak terkait. Dugaan penyadapan, pembajakan, maupun penggunaan nomor oleh pihak lain masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Redaksi Sambar.id membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi pihak-pihak terkait serta akan memperbarui pemberitaan apabila terdapat hasil pemeriksaan teknis, laporan resmi, maupun perkembangan penyelidikan dari aparat penegak hukum.
Apriandi Tj
Sambar.id — Sekilas Mengabarkan Indonesia.










