SAMBAR.ID | SUKABUMI – Asap dupa membaur dengan aroma padi baru yang mulai menguning di Desa Gunung Tanjung, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Pada Minggu (1/11/2026), ribuan warga dan pegiat budaya tumpah ruah menghadiri puncak acara Seren Taun Kasepuhan Gunung Tanjung. Di antara kerumunan yang memadati pelataran adat, hadir sosok Muhamad Andris, S.AP., Ketua Umum SABA DESA (Satuan Bantuan Aspirasi Desa).
Kehadiran Andris bukan sekadar formalitas protokoler. Ia hadir mewakili H. Junajah Jajah Nurdiansyah, S.Pd., anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil I. Kehadiran ini membawa pesan simbolis yang kuat: jembatan antara institusi legislatif modern dengan kearifan lokal yang telah mengakar ratusan tahun.
Dalam kesempatan tersebut, Andris menyoroti relevansi keberadaan wakil rakyat di ruang-ruang adat. Menurutnya, Seren Taun bukan hanya ritual syukur panen, melainkan barometer kesejahteraan masyarakat agraris yang harus menjadi perhatian utama pembuat kebijakan.
"Saya hadir di sini membawa amanat dari Bapak H. Junajah Jajah Nurdiansyah. Ini adalah bentuk nyata bahwa legislator tidak boleh asing dengan denyut nadi kehidupan masyarakatnya, terutama mereka yang hidup berdampingan erat dengan alam dan tradisi," ungkap Andris di sela-sela prosesi adat.
Andris menambahkan, sinergi antara pemerintah desa, lembaga adat, dan wakil rakyat adalah kunci untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sosial di Sukabumi. Ia menekankan bahwa aspirasi masyarakat adat sering kali terpinggirkan dalam diskusi kebijakan makro, sehingga kehadiran organisasi seperti SABA DESA menjadi vital untuk menerjemahkan kebutuhan lapangan ke dalam bahasa politik yang konstruktif.
"Kami melihat bahwa pelestarian budaya dan peningkatan ekonomi masyarakat adat harus berjalan beriringan. Tidak ada artinya aturan daerah jika tidak menyentuh akar rumput. Melalui momentum Seren Taun ini, kami ingin memastikan bahwa suara Kasepuhan Gunung Tanjung didengar hingga ke meja rapat paripurna," tambah Andris dengan nada tegas.
Lebih jauh, Andris berharap agar kolaborasi semacam ini dapat menjadi pola rutin, bukan sekadar seremonial tahunan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga harmoni antara modernisasi pembangunan dan pelestarian nilai-nilai luhur leluhur.
"Harapan kami, ke depan akan ada program-program spesifik dari DPRD yang benar-benar responsif terhadap kebutuhan komunitas adat, mulai dari infrastruktur hingga perlindungan hak ulayat. SABA DESA siap menjadi mitra strategis untuk menjembatani hal tersebut," pungkas Andris.
Kehadiran perwakilan fraksi PDI Perjuangan melalui utusan SABA DESA ini memberikan sinyal positif bagi penguatan demokrasi partisipatif di tingkat akar rumput. Di tengah arus globalisasi, langkah ini menegaskan bahwa politik yang berpihak pada rakyat dimulai dari penghormatan terhadap identitas dan tradisi mereka.
(Hans)














