Sambar.id Bulukumba, Sulsel — Herlang bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ingatan, nilai, dan ruang hidup yang dijaga lintas generasi. Sejarahnya bertumbuh dari kepemimpinan adat hingga pemerintahan modern, dari kata yang dijaga hingga kerja yang dibuktikan.
Nama Karaeng Bali Patta Lolo hidup dalam memori masyarakat sebagai camat pertama di Herlang, tokoh yang menapaki masa peralihan ketika adat dan negara bertemu. Di masanya,
Kepemimpinan tidak ditakar dari kerasnya suara, melainkan dari kemampuan menjaga keseimbangan wilayah dan kepercayaan masyarakat.
“Dulu Karaeng memimpin dengan tenang. Wilayah dijaga dengan rasa, bukan hanya aturan,” tutur seorang tokoh adat Herlang, mengulang pesan para tetua.
Warisan itu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia mengalir kepada cucunya, Andi Fidya Samad, S.Sos, putra asli Herlang yang lahir, tumbuh, dan menyatu dengan denyut wilayah ini. Sejak kecil, ia hidup di antara cerita tentang batas kampung, hubungan antar tokoh, dan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap tanah yang dipijaknya.
Pemahaman Andi Fidya Samad tentang teritorial Herlang tidak lahir dari meja rapat semata,melainkan dari perjalanan panjang hidup di tengah masyarakat. Ia mengenal wilayah bukan hanya melalui peta, tetapi melalui manusia, adat, dan sejarah yang melekat di dalamnya.
Tokoh adat menilai, kepemimpinan yang tidak memahami akar sejarah berisiko kehilangan arah.
“Kalau lupa asal-usul wilayah, pembangunan bisa kehilangan jiwa,” ujar seorang pemangku adat.
“Di sini, sejarah adalah penuntun, bukan beban.”
Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Andi Fidya Samad memilih jalur sunyi: membangun silaturahmi, menguatkan jejaring, dan menggerakkan potensi yang ada. Bagi dirinya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bekerja, melainkan tantangan untuk berbuat lebih cermat.
Sejumlah tokoh masyarakat mengakui, kemampuan koordinasi dan jaringan yang dimilikinya mampu menggerakkan berbagai sektor sekaligus—pemerintahan desa, tokoh adat, pemuda, hingga komunitas sosial. Gerak itu jarang diumumkan, namun dampaknya dirasakan.
Ia bukan tipe pemimpin yang gemar berbicara panjang. Tenang, tidak menonjol, namun konsisten hadir.
Prinsipnya sederhana dan diwariskan dari masa lalu: kerja lebih utama dari kata. Siang atau malam, ia turun ke lapangan memastikan urusan masyarakat tidak berhenti di meja.
Bagi warga Herlang, kesinambungan antara Karaeng Bali Patta Lolo dan Andi Fidya Samad adalah simbol kepemimpinan yang bekerja tanpa gaduh.
Sebuah pengingat bahwa daerah yang kuat bukan hanya dibangun dengan anggaran, tetapi dengan ingatan, kepercayaan, dan kerja yang terus menyala meski tanpa sorot lampu.
Herlang dijaga dalam diam—namun bergerak dengan pasti.
laporan .As mappasomba








