Ketegangan di Morowali: Diwarnai Tembakan, Jurnalis Advokasi Ditangkap Paksa Polisi

PASCA-PENANGKAPAN AKTIVIS LINGKUNGAN Arlan Dahrin yang berujung pada pembakaran kantor PT RCP), Polres) Morowali kini meringkus Royman M. Hamid, seorang jurnalis vokal mengawal konflik agraria./F-IST 


SAMBAR.ID, Morowali, Sulteng - Situasi di Morowali kembali memanas. Pasca-penangkapan aktivis lingkungan Arlan Dahrin yang berujung pada pembakaran kantor PT Raihan Catur Putra (RCP), Kepolisian Resort (Polres) Morowali kini meringkus Royman M. Hamid, seorang jurnalis yang dikenal vokal mengawal konflik agraria.


Penangkapan yang terjadi pada Minggu (04/01/2026) ini berlangsung dramatis dan mencekam. Berdasarkan kesaksian warga di Desa Torete, operasi kepolisian tersebut diawali dengan rentetan suara tembakan yang mengejutkan penduduk setempat.


Kronologi Penangkapan: Diwarnai Aksi Penodongan Senjata


Saksi mata di lokasi, Firna M. Hamid, mengungkapkan bahwa aparat kepolisian awalnya mendatangi rumah Asdin, kakak dari aktivis Arlan Dahrin. 


Dalam suasana tegang tersebut, seorang warga dilaporkan sempat ditodong senjata api oleh petugas.

"Ada salah seorang ibu (Mama Arwan) ditodongkan senjata sambil ditanya keberadaan Royman," ujar Firna.


Setelah mengetahui Royman berada di kediaman Jufri Jafar, sejumlah personel yang dipimpin langsung oleh Kasatreskrim Polres Morowali segera mengepung lokasi tersebut.


Penolakan Dokumentasi Administrasi dan Upaya Paksa





Berdasarkan rekaman video yang beredar, sempat terjadi adu argumen antara Royman dan Kasatreskrim. Meski pihak kepolisian mengklaim membawa administrasi penangkapan yang lengkap, Royman dilarang mendokumentasikan surat-surat tersebut.


Ketegangan memuncak saat petugas melakukan upaya paksa. Royman dilaporkan dipiting pada bagian leher dan tangannya dipegang erat oleh sejumlah anggota kepolisian sebelum akhirnya diseret masuk ke dalam mobil petugas.


Kritik dari Masyarakat


Tindakan represif ini memicu keprihatinan mendalam dari warga setempat. Sejumlah saksi menyayangkan prosedur penangkapan yang dinilai berlebihan dan tidak manusiawi.


"Masyarakat menyayangkan penangkapan terhadap Royman maupun Arlan yang terkesan diperlakukan seperti teroris. Padahal keduanya hanya mengawal aspirasi masyarakat," ujar salah satu warga di lapangan.


Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Morowali belum memberikan keterangan resmi terkait alasan spesifik penangkapan Royman M. Hamid serta prosedur penggunaan senjata api dalam operasi tersebut.***

Lebih baru Lebih lama