SAMBAR.ID, Papua Pegunungan — Di tengah dinamika kepemimpinan modern yang kerap diwarnai retorika dan ambisi kekuasaan, sosok Aletinus Yigibalom justru tampil berbeda. Ia dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati, tenang, dan lebih banyak bekerja daripada berbicara. Bagi masyarakat Beam–Kwiyawagi di Kabupaten Lanny Jaya, ia bukan sekadar pejabat, melainkan figur “bapa rakyat” yang hadir mendengar dan merangkul.
Tulisan reflektif yang disampaikan Angginak Sepi Wanimbo, pegiat literasi dari Papua Pegunungan, menggambarkan Yigibalom sebagai pemimpin yang tumbuh dari nilai iman, kesederhanaan, dan ketulusan dalam melayani.
Dalam perspektif teori manajemen, kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Pemikir manajemen James A. F. Stoner (1998) menyebutkan bahwa semakin besar sumber kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin, semakin besar pula potensi efektivitas kepemimpinannya.
Namun bagi masyarakat Lani, kepemimpinan tidak semata diukur dari kekuasaan formal. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, kesetaraan, dan kedamaian justru menjadi pilar utama yang menentukan legitimasi seorang pemimpin di mata rakyat.
“Aletinus Yigibalom adalah sosok bapa yang rendah hati, ramah, pendiam, polos, namun jujur dalam tutur kata maupun tindakan,” tulis Angginak Sepi Wanimbo dalam refleksinya tentang kepemimpinan tradisional suku Lani.
Bertumbuh dari Iman dan Kesederhanaan
Kehidupan masa kecil Yigibalom tidak terlepas dari pengaruh keluarga dan pelayanan gereja. Ia dikenal sebagai anak yang taat kepada orang tua dan tumbuh dalam lingkungan pelayanan rohani.
Salah satu tempat yang membentuk perjalanan iman dan karakternya adalah Gereja Baptis Onggeme, tempat ia belajar nilai pelayanan, kesetiaan, dan tanggung jawab kepada sesama.
Pengalaman hidup yang ditempa dari berbagai medan pelayanan bersama orang tuanya membentuk karakter kepemimpinan yang kuat namun sederhana. Bagi masyarakat setempat, perjalanan hidup tersebut menjadikannya figur yang memahami penderitaan rakyat kecil.
Pemimpin yang Banyak Mendengar
Berbeda dengan banyak pemimpin yang dominan berbicara, Yigibalom dikenal sebagai sosok yang lebih banyak mendengar. Ia hadir di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang lemah dan terpinggirkan.
Dalam berbagai kesempatan, ia berusaha merangkul masyarakat dari beragam latar belakang, memberi nasihat, edukasi, serta menanamkan harapan tentang masa depan yang lebih baik.
Sikap pendiam yang melekat pada dirinya bukan berarti pasif. Sebaliknya, masyarakat menilai ia bekerja dalam diam dengan fokus pada komitmen pembangunan daerah.
Visi Pembangunan Lanny Jaya
Dalam kepemimpinannya, Yigibalom mengusung visi pembangunan “Lanny Jaya Mandiri, Cerdas, dan Sehat (MCS)”. Konsep pembangunan yang diusungnya menitikberatkan pada strategi pembangunan dari kampung ke kota, sebuah pendekatan yang dinilai relevan dengan realitas sosial masyarakat Papua Pegunungan.
Pendekatan tersebut bertujuan memperkuat fondasi pembangunan dari tingkat kampung, mencakup sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, hingga infrastruktur.
Bagi banyak kalangan masyarakat, konsep ini dianggap sebagai gagasan progresif yang membutuhkan komitmen bersama dari seluruh elemen masyarakat untuk diwujudkan.
Kepemimpinan Berbasis Nilai
Dalam praktiknya, Yigibalom dikenal tidak membeda-bedakan latar belakang suku, wilayah, maupun denominasi gereja. Ia berupaya merangkul seluruh elemen masyarakat dalam pelayanan pemerintahan dan kehidupan sosial.
Nilai-nilai yang sering ditekankan dalam kepemimpinannya antara lain:
Kedamaian
Keadilan
Kasih
Kesetaraan
Kejujuran
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam merumuskan kebijakan pembangunan berkelanjutan di Lanny Jaya.
Jika fondasi ini terus dijaga, masyarakat berharap pembangunan di berbagai sektor—mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat hingga kemandirian masyarakat—dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Kepemimpinan sebagai Tanggung Jawab Moral
Bagi masyarakat beriman di Papua Pegunungan, kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan administratif, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual.
Sebagaimana tertulis dalam Ibrani 13:17, pemimpin diingatkan untuk menjaga jiwa dan kesejahteraan umat yang dipimpinnya.
Refleksi inilah yang menjadi pesan penutup dalam tulisan Angginak Sepi Wanimbo: bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kerendahan hati, kesetiaan, dan keberanian melayani rakyat.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan di Papua Pegunungan, sosok seperti Aletinus Yigibalom dianggap mewakili harapan tentang pemimpin yang bekerja dengan hati — bukan sekadar dengan jabatan.
Penulis: Angginak Sepi Wanimbo
Pegiat Literasi Papua Pegunungan
Jika Anda mau, saya juga





.jpg)





