PERBAIKAN JALAN CIBADAK - CIKIDANG Rp 34 MILIAR, DIBANGUN TAPI DIHAJAR TRUK BESAR : MENDING KONTRAK DIEVALUASI

SAMBAR.ID | SUKABUMI – Ironis! Meskipun proyek perbaikan ruas jalan provinsi penghubung Cibadak - Cikidang baru saja dimulai dengan nilai anggaran fantastis mencapai Rp 34 Miliar, kondisi di lapangan justru sangat memprihatinkan.

Setiap hari, puluhan mobil besar pengangkut material dari Gunung Salak dengan beban di atas 30 ton dengan leluasa melintas, bahkan saat jalan tersebut sedang dalam tahap pengerjaan.

Melihat realita yang tidak berubah, muncul usulan keras dari kalangan pemerhati pembangunan.

Dikatakan bahwa kontrak pekerjaan yang saat ini baru dimulai tersebut justru lebih baik dibatalkan saja.


"Daripada uang Rp 34 Miliar terbuang percuma, mending kontraknya dibatalkan demi efisiensi anggaran. Kita harus mengedepankan ketepatan mutu dan kualitas hasil kerja," tegas sumber tersebut.


Menurutnya, sebelum melanjutkan pembangunan, harus dilakukan evaluasi total dan kajian ulang yang mendalam. Percuma membangun bagus kalau faktanya jalan akan rusak kembali dalam waktu singkat karena beban yang tidak wajar.


Kondisi ini dinilai sebagai pemborosan anggaran yang nyata.

"Percuma diperbaiki kalau setiap hari dilewati muatan di atas kapasitas. Uang rakyat habis, jalan pun tetap rusak," ujarnya.


Masalah yang sama juga terjadi di ruas jalan Jampang Tengah - Kiara Dua. Polanya sama, jalan diperbaiki, lalu hancur lagi karena tidak ada penertiban.


Selain merusak struktur jalan, lalu lalangnya truk berat ini membuat jalan menjadi berlumpur dan sangat membahayakan pengendara, terutama pengguna roda dua yang sering terpeleset.


Untuk menyelesaikan masalah ini secara jangka panjang, ada dua opsi solusi yang ditawarkan:

1. Pihak perusahaan (Star Energi) membangun jalan akses sendiri khusus untuk angkutan material mereka.

2. Atau tetap memakai jalan provinsi, namun seluruh biaya pemeliharaan dan pembangunan harus ditanggung sepenuhnya oleh Star Energi melalui CSR.


"Dengan cara ini, anggaran APBD Provinsi bisa dialihkan ke jalan-jalan lain yang lebih membutuhkan," jelasnya.


Langkah ini dinilai sebagai bentuk kepedulian nyata.

"Ini tanda kalau Gubernur benar-benar sayang terhadap aset jalan dan anggaran daerah. Menyelesaikan masalah bukan hanya tambal sulam, tapi mencari solusi jangka panjang agar anggaran tidak terus-menerus bocor," pungkasnya.




(Hans)

Lebih baru Lebih lama