SAMBAR.ID, Opini, Sulteng - Kursi kepemimpinan di Mapolda Sulawesi Tengah segera memasuki babak baru. Seiring dengan masa purnabakti Irjen Pol. Dr. Endy Sutendy pada April 2026, teka-teki siapa sosok yang paling layak menakhodai Korps Bhayangkara di "Bumi Tadulako" mulai terjawab oleh aspirasi publik.
Dari sekian nama yang beredar, sosok Brigjen Pol. Dr. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf muncul bukan sekadar sebagai pelengkap bursa calon. Ia dipandang sebagai kandidat terkuat yang memiliki perpaduan langka antara profesionalisme reserse yang dingin dan ikatan batin yang hangat dengan tanah kelahirannya.
Sang "Local Boy Do Good": Memahami Denyut Nadi Rakyat
Penunjukan Helmi sebagai Wakapolda Sulteng sejak November 2024 seolah menjadi "masa orientasi strategis". Sebagai putra asli kelahiran Luwuk, Banggai, 8 Mei 1971, ia tidak butuh peta untuk memahami kerawanan wilayah.
Ia mengenal filosofi lokal, memahami bahasa rakyat, dan memiliki keterikatan emosional yang tidak dimiliki perwira dari luar daerah.
Mantan Kepala Komnas HAM Sulteng, Dedi Askary, SH, menilai identitas sebagai putra daerah adalah modal sosial yang sangat mahal untuk menciptakan stabilitas keamanan berbasis kearifan lokal.
Rekam Jejak Reserse: "Mau Sembunyi di Dalam Batu Pun Kami Kejar"
Dunia reserse adalah napas bagi lulusan Akpol 1993 ini. Pernah menjabat sebagai Wadirtipidum Bareskrim Polri dan Dirresnarkoba di berbagai daerah, Helmi dikenal sebagai perwira tanpa kompromi.
Catatan prestasinya di Polda NTB menjadi bukti nyata; ia berhasil mengungkap 14 kg sabu—rekor terbesar dalam sejarah polda tersebut—dan dengan lantang menantang para bandar serta pembekingnya.
"Jabatan saya pertaruhkan demi menyelamatkan generasi bangsa," tegasnya kala itu.
Bagi Sulteng yang memiliki dinamika unik seperti sengketa lahan dan tambang ilegal, tangan dingin seorang ahli reserse sangat dibutuhkan untuk memberikan kepastian hukum bagi rakyat kecil.
Jaminan Kontinuitas dan Stabilitas
Transisi kepemimpinan seringkali membawa risiko hambatan birokrasi. Namun, karena posisi Helmi saat ini adalah Wakapolda, ia adalah mata rantai terkuat untuk memastikan program strategis yang telah diletakkan Irjen Pol. Endy Sutendy tetap berjalan mulus. Ia adalah simbol keberlanjutan yang stabil.
Menakar Peluang: Menuju Bintang Dua
Secara normatif, penentuan Kapolda adalah hak prerogatif Kapolri. Namun, tren promosi Polri saat ini semakin inklusif terhadap putra daerah berprestasi.
"Peluang Brigjen Helmi sangat terbuka lebar. Kenaikan pangkat menjadi Inspektur Jenderal (Bintang Dua) seolah tinggal menunggu waktu," ujar Dedi Askary optimis.
Transisi pada April 2026 mendatang bukan sekadar pergantian tongkat estafet. Ini adalah harapan akan hadirnya sosok pelindung yang berwibawa namun tetap merakyat.
Brigjen Pol. Helmi Kwarta memiliki tiga syarat mutlak: Integritas, Kapabilitas, dan Identitas. Jika amanah itu jatuh ke tangannya, semboyan Polri Presisi diprediksi akan benar-benar membumi di Tanah Leluhur Sulawesi Tengah.***
Source : Ikrapost.com







.jpg)



