Bulukumba, Sambar.id — Prestasi gemilang kembali ditorehkan atlet muda asal Kabupaten Bulukumba dalam ajang Kejurnas 1 ORADO Indonesia. Tim junior ORADO Bulukumba sukses meraih gelar juara nasional, mengukir kebanggaan baru bagi Sulawesi Selatan di kancah olahraga domino nasional.
Namun di balik capaian tersebut, terselip ironi yang tak bisa diabaikan. Prestasi besar itu belum sepenuhnya diiringi dengan perhatian serius dari pemerintah daerah maupun provinsi. Harapan publik kini mengarah pada langkah konkret dari pemangku kebijakan agar para atlet tidak dibiarkan berjuang sendiri setelah mengharumkan nama daerah.
Ketua Bidang Olahraga dan Kesehatan Pengcab ORADO Bulukumba sekaligus pelatih tim junior, Andi Batara, menegaskan bahwa jalan menuju podium nasional bukanlah proses yang mudah. Dibutuhkan pengorbanan besar, mulai dari tenaga, waktu, hingga biaya yang tidak sedikit.
“Anak-anak ini membawa nama baik Bulukumba dan Sulawesi Selatan di tingkat nasional. Sudah sewajarnya pemerintah hadir memberi dukungan nyata, baik dalam bentuk pembinaan berkelanjutan, bonus prestasi, maupun beasiswa pendidikan,” ujarnya, Rabu (7/5/2026).
Ia menekankan, perhatian pemerintah tidak boleh berhenti pada seremoni kemenangan semata. Lebih dari itu, keberlanjutan pembinaan menjadi kunci agar prestasi tidak hanya menjadi catatan sesaat.
“Kami berharap pemerintah tidak hanya hadir saat euforia kemenangan, tetapi juga memastikan proses pembinaan atlet berjalan sistematis sejak dini,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua Pengprov ORADO Sulawesi Selatan, Firman Sulkadri, mengapresiasi capaian atlet Bulukumba yang dinilai telah mencetak sejarah baru bagi olahraga domino di Sulawesi Selatan.
“Ini adalah kebanggaan bersama. Kami akan menindaklanjuti pembinaan atlet serta mendorong adanya penghargaan yang layak bagi para juara,” katanya.
Prestasi tim ORADO Bulukumba menjadi bukti bahwa daerah memiliki potensi besar dalam melahirkan atlet berdaya saing tinggi. Namun tanpa dukungan nyata dan berkelanjutan dari pemerintah, capaian tersebut berisiko menjadi sekadar euforia tanpa kesinambungan.
Kini, sorotan publik tertuju pada komitmen pemerintah daerah dan provinsi: apakah prestasi ini akan dijadikan titik awal kebangkitan pembinaan olahraga, atau justru kembali tenggelam dalam siklus abai yang berulang.







.jpg)



